SIARINDOMEDIA.COM – Tempe, makanan tradisional khas Indonesia yang sudah mendunia, ternyata punya proses produksi yang menarik untuk disimak.
Di balik cita rasanya yang gurih dan kandungan gizinya yang tinggi, tempe dibuat melalui proses fermentasi sederhana namun penuh ketelitian.
Mustakim, seorang pelaku usaha produksi tempe rumahan yang terletak di Perum Permata Asri, Pakisjajar, Kabupaten Malang, telah menjalankan usahanya selama 23 tahun. Ia menjelaskan, proses pembuatan tempe diawali dengan pemilihan kedelai berkualitas.
“Kedelai direndam satu hari, lalu direbus keesokan harinya, kemudian digiling, dicuci, direndam lagi, direbus lagi, jadi merebusnya dua kali lalu diberi ragi. Setelah itu dicetak dan menunggu sekitar dua harian untuk jadi tempe,” jelasnya.
Langkah selanjutnya adalah proses inokulasi, di mana kedelai yang sudah bersih dan matang dicampur dengan ragi tempe.
Campuran ini kemudian dibungkus menggunakan daun pisang atau plastik berlubang kecil agar sirkulasi udara tetap terjaga.

Proses fermentasi berlangsung selama dua hari di suhu ruangan. Selama fermentasi, jamur ragi akan tumbuh dan membentuk lapisan putih yang merekatkan biji kedelai satu sama lain. Inilah yang membuat tempe memiliki tekstur padat dan rasa khas yang disukai banyak orang.
Menurut Mustakim, ketelitian dalam setiap proses menjadi kunci keberhasilan produksi tempe.
“Proses pembuatan tempe itu nggak bisa asal-asalan. Suhu, kelembapan, sampai kebersihan alat harus benar-benar diperhatikan,” tambahnya.
Selain itu, tempe juga memiliki potensi besar di pasar dan menarik minat berbagai konsumen. Hal ini diungkapkan oleh Ida, istri Mustakim, yang turut membangun usaha tersebut dari nol.
“Setiap hari kita membuat tempe, nanti ada yang ngambil dan dikirim ke Pasar Blimbing. Ada juga langganan yang rutin pesan untuk dijual di tokonya masing-masing. Jadi kita sudah nggak repot-repot memasarkan, karena sudah ada pelanggan tetap,” jelas Ida.
Meski terkesan sederhana, setiap tahapan butuh perhatian khusus. Kebersihan alat, suhu ruangan, hingga kelembapan menjadi faktor penting agar tempe bisa matang sempurna tanpa gagal fermentasi.
Tak hanya di Indonesia, tempe kini juga diminati di berbagai negara sebagai sumber protein nabati yang sehat.
Di tengah gempuran makanan modern, tempe tetap bertahan sebagai primadona kuliner tradisional yang kaya manfaat.














