
SIARINDOMEDIA.COM– Ketergantungan petani terhadap pestisida kimia mulai mendapat tantangan serius seiring berkembangnya pendekatan ramah lingkungan dalam pengendalian hama. Salah satu metode yang kini mulai diterapkan adalah farmscaping, yaitu pengelolaan habitat pertanian dengan memanfaatkan tanaman berbunga dan predator alami.
Selama ini, pestisida dianggap sebagai solusi cepat dalam mengatasi serangan hama. Namun, penggunaan berlebihan justru memicu berbagai masalah seperti resistensi hama, pencemaran lingkungan, hingga menurunnya populasi serangga penyerbuk.
“Penggunaan pestisida secara berlebihan justru bisa merusak keseimbangan ekosistem pertanian dan dalam jangka panjang mengancam produktivitas itu sendiri,” ungkap Naufal Wima Al Fahri dalam kajian konservasi ekosistem yang dilakukan di Universitas Negeri Malang.
Data global juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat penggunaan pestisida meningkat lebih dari dua kali lipat dalam empat dekade terakhir. Kondisi ini berdampak pada menurunnya populasi lebah dan serangga penyerbuk yang memiliki peran penting dalam produksi pangan.

Sebagai alternatif, konsep farmscaping hadir dengan memanfaatkan tanaman refugia seperti bunga matahari, kenikir, dan bunga kertas untuk menarik predator alami. Serangga seperti kumbang koksi, laba-laba, dan tawon parasitoid menjadi “pasukan alami” yang membantu menekan populasi hama.
“Farmscaping pada dasarnya adalah cara sederhana untuk bekerja sama dengan alam, bukan melawannya,” jelas Naufal.
Penerapan metode ini telah ditemukan di berbagai daerah di Jawa Timur. Di Kabupaten Malang, misalnya, penggunaan tanaman refugia di sawah organik terbukti meningkatkan keberagaman arthropoda yang berperan sebagai pengendali hama alami.
Sementara itu, di Kabupaten Pamekasan, petani mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman berbunga untuk menciptakan habitat yang mendukung keberadaan predator dan parasitoid. Hasilnya, pengendalian hama dapat dilakukan secara lebih alami tanpa ketergantungan tinggi pada bahan kimia.
Praktik serupa juga dikembangkan oleh Kholifah, petani sekaligus Ketua P4S Tani Makmur di Pasuruan. Ia dikenal sebagai pelopor penggunaan agens hayati dalam pertanian.
“Kami memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid untuk mengendalikan hama, jadi tidak semua serangga harus dimusnahkan,” ujar Kholifah.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan biaya produksi petani. Selain itu, melalui P4S Tani Makmur, ia aktif memberikan pelatihan kepada petani untuk mengenali dan memanfaatkan musuh alami di lahan mereka.
“Petani perlu memahami bahwa ada serangga yang justru membantu mereka. Kalau semua dibasmi, ekosistemnya jadi tidak seimbang,” tambahnya.
Meski memiliki banyak keunggulan, penerapan farmscaping masih menghadapi tantangan. Sebagian petani masih menganggap pestisida sebagai solusi paling praktis karena hasilnya yang instan.
Padahal, pendekatan ekologis seperti farmscaping membutuhkan waktu untuk membangun keseimbangan ekosistem. Namun, dalam jangka panjang, metode ini dinilai lebih berkelanjutan dan aman bagi lingkungan.
“Menanam bunga di lahan pertanian bukan sekadar estetika, tetapi investasi untuk masa depan pertanian yang lebih sehat,” kata Naufal.
Ke depan, dukungan pemerintah dinilai penting untuk memperluas penerapan metode ini. Program seperti Gerakan Pertanian Pro-Organik (Genta Organik) dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong pengurangan penggunaan pestisida kimia.
Dengan sinergi antara petani, komunitas, dan kebijakan pemerintah, farmscaping diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mewujudkan pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan.













