SOSIOLOG UMM: BURUH KERAP BERTEPUK SEBELAH TANGAN

SIARINDOMEDIA.COM – Di mata Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) peringatan Hari Buruh atau May Day, kaum buruh sering malah hanya bertepuk sebelah tangan. Dimana buruh senantiasa berorientasi pada kesejahteraan, berbanding terbalik dengan perusahaan yang senantiasa berorientasi pada keuntungan.

Hal tersebut disampaikan oleh Wahyudi Winarjo, Sosiolog UMM, tepat di May Day atau Hari Buruh Internasional.

Dia menjabarkan, bahwa perusahaan senantiasa berorientasi pada keuntungan ekonomi. Sedangkan buruh senantiasa berorientasi untuk tersedianya struktur sosial perusahaan. Terutama yang bisa memberikan keadilan dan kesejahteraan, yang sesuai ukuran normal sosial ekonomi masyarakat.

“Kedua orientasi ini tidak mudah bertemu. Justru yang terjadi adalah ketimpangan. Harapan buruh cenderung bertepuk sebelah tangan,” ungkap Wahyudi kepada reporter Siarindo Media, Senin (1/5/2023).

Wahyudi Winarjo, Sosiolog UMM
PRIHATIN NASIB BURUH. Wahyudi Winarjo, Sosiolog UMM. Foto: Ist

Selanjutnya Wadir II Pascasarjana UMM ini juga menjelaskan, jika perusahaan sering menggunakan kalimat “Kalau tidak mau dengan gaji itu ya sudah tidak usah bekerja di sini. Masih banyak sekali pelamar pekerjaan yang antri.”

Wahyudi pun prihatin dengan nasib buruh. Lantas dia memberikan beberapa alternatif solusi.

Link Banner

Yang pertama, yakni dengan berupaya meningkatkan pendidikan dan ketrampilan para buruh dan para tenaga kerja usia produktif.

“Dengan demikian wawasan dan cara berpikir para buruh lebih kedepan,” ujarnya.

Kemudian solusi yang kedua, dengan mendorong menciptakan lapangan kerja sendiri sesuai dengan potensi dan peluang yang ada. Wahyudi kemudian memberi contoh seperti memanfaatkan peluang pasar online, dan mengoptimalkan Market Place di Media Sosial.

Selanjutnya, perlu gerakan Back to Village untuk melakukan industrialisasi komoditi desa. Dimana tak bisa dipungkiri, Indonesia tampaknya cocok mengembangkan agroindustri.

Terakhir, yakni perlu dibangun nilai bahwa hidup di desa yang produktif itu jauh lebih meningkatkan harkat martabat daripada hidup menjadi buruh seumur hidup.

Petani Indonesia
MARTABAT. Menjadi petani yang produktif lebih baik ketimbang menjadi buruh selamanya. Foto: VOI

Author

  • Dedik Achmad

    Kuli tinta yang gemar rebahan sekaligus doyan makan. Namun terobsesi pengen jadi manusia yang manfaat dunia akherat.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *