SIARINDOMEDIA.COM – Di tengah modernisasi yang semakin pesat, seni wayang kulit tetap lestari berkat tangan-tangan terampil para pengrajinnya. Yang terletak di Jl.Mohammat Said Dusun Cukal Bendosari Pujon.
Salah satu di antaranya adalah Adi Purnomo (34), seorang pengrajin wayang asal Cukal Pujon yang telah menekuni profesi ini selama kurang lebih 20 tahun.
Demi menopang pendapatan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, ia juga menjalankan bisnis sampingan berupa konter pulsa dan hp di rumahnya.
Adi Purnomo mulai belajar membuat wayang sejak kecil yang sudah menjadi hobinya, yang juga salah satu seorang pengrajin wayang di desa mereka.
“Pembuatan wayang ini memakai bahan dasar kulit sapi, kertas semen dan karton untuk harganya mulai 25 ribu – 1 juta” ujar Adi Purnomo, ayah dari 2 anak ini.
Keuletannya dalam mengukir kulit kerbau menjadi karakter-karakter pewayangan membuat karyanya diminati hingga ke luar daerah.
Namun, seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap wayang mulai menurun akibat persaingan dengan hiburan digital.
“Kami harus kreatif mencari cara agar tetap bisa bertahan. Permintaan wayang masih ada, tapi tidak sebanyak dulu,” tambahnya.

Strategi Bertahan di Tengah Perubahan
Untuk mengatasi ketidakpastian pasar wayang, Adi Purnomo memutuskan membuka konter pulsa dan aksesoris ponsel sejak enam tahun lalu. Keputusan itu diambil setelah melihat kebutuhan masyarakat yang tinggi terhadap layanan komunikasi.
“Kalau hanya mengandalkan wayang, penghasilan tidak menentu. Sementara dengan konter pulsa, saya bisa mendapat pemasukan harian,” ujarnya dengan nada lirih.
Konter miliknya menawarkan berbagai layanan seperti pengisian pulsa, paket data, hingga pembayaran tagihan listrik.
Dengan lokasi yang cukup strategis di gang pedesaan, bisnis tersebut berkembang pesat dan kini menjadi sumber pemasukan utama bagi keluarganya.
NGESIS GENDING MALANGAN, SARASEHAN BAHAS GENDING MALANGAN DI OMAH WAYANG UNITRI – Siarindo Media
Memadukan Tradisi dan Inovasi
Meski fokusnya kini terbagi, Adi Purnomo tetap berkomitmen melestarikan seni wayang. Ia pernah mengikuti pameran seni dan memberikan pelatihan kepada generasi muda yang tertarik belajar membuat wayang.
“Saya berharap anak-anak muda tidak melupakan budaya sendiri. Dengan adanya internet dan media sosial, kita bisa mempromosikan wayang ke lebih banyak orang,” ujarnya dengan optimis.
Dengan kombinasi usaha kreatif dan bisnis modern, ia berhasil menjaga warisan leluhur sekaligus memastikan keberlanjutan ekonomi keluarganya.












