SIARINDOMEDIA.COM – Gunung Kawi, yang terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu tempat yang dikenal sarat akan kisah mistis dan nilai sejarah. Gunung Kawi yang sering dikaitkan dengan mistis ini sebenarnya menarik untuk ditelusuri, salah satunya adalah keraton di tempat tersebut.
Pada Senin, 13 Oktober 2025, kami (Mahasiswa PAI UIN Malang) melakukan observasi langsung ke kawasan Keraton Gunung Kawi sebagai bagian dari tugas liputan lapangan.
Kami tiba di lokasi sekitar pukul sembilan pagi. Suasana saat itu masih terbilang sepi. Beberapa kios pedagang di sekitar area belum buka, dan aroma dupa yang biasanya menyelimuti kawasan peziarahan pun belum terasa.
Udara pagi di kaki Gunung Kawi cukup sejuk, dengan latar pepohonan rimbun yang menambah kesan tenang dan sakral.

Di area utama, terlihat bangunan-bangunan kuno dan sebuah kompleks makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan dua tokoh penting: Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono, yang menjadi pusat ziarah bagi para pengunjung.
Meski belum ramai, dari petunjuk dan tulisan yang terpampang di area tersebut, kami mengetahui bahwa tempat ini biasanya dipadati oleh peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang dengan beragam niat dan latar belakang agama. Ada yang ingin berdoa, mencari ketenangan batin, menunaikan nazar, hingga sekadar berkunjung karena rasa penasaran terhadap kisah mistis Gunung Kawi yang sudah melegenda.
Perbedaan tujuan dan keyakinan ini menunjukkan betapa Gunung Kawi telah menjadi ruang lintas budaya dan spiritual yang unik.
Keraton Gunung Kawi sendiri memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan masa penjajahan Belanda.
Dikisahkan bahwa Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono adalah tokoh yang berjuang melawan penjajahan. Setelah wafat, keduanya dianggap memiliki karomah atau kekuatan spiritual yang menjadikan makam mereka sebagai tempat ziarah hingga kini.
Seiring waktu, kepercayaan masy arakat terhadap kekuatan spiritual di tempat ini terus berkembang, dan muncul berbagai kisah tentang “pesugihan”, ritual untuk mencari kekayaan melalui perantara gaib.

Namun, tidak semua pengunjung datang dengan tujuan tersebut. Banyak pula yang datang sekadar untuk mendoakan, mengenang sejarah, atau menenangkan diri dari kesibukan dunia.
Dari hasil observasi kami, suasana di Keraton Gunung Kawi menggambarkan harmoni antara tradisi, sejarah, dan spiritualitas yang melebur dalam satu tempat.
Meski diselimuti cerita mistik, kawasan ini juga menyimpan nilai budaya dan filosofi tentang keyakinan, keteguhan hati, dan pencarian makna hidup.
Gunung Kawi bukan sekadar tempat pesugihan seperti yang sering digembar-gemborkan, tetapi juga cermin keragaman spiritual masyarakat Indonesia, di mana perbedaan niat dan agama tetap bisa berdampingan dalam ketenangan dan doa.













