Harmoni dalam Keberagaman
Jamming Pavilion Expanded pada 21 November 2024 menjadi puncak dari keterlibatan Perempuan Komponis di Gwangju Biennale. Acara ini menghadirkan penampilan solo dari Marisa Sharon Hartanto, Leilani Hermiasih, Mery Kasiman, dan Rani Jambak. Setiap seniman membawakan karya yang mencerminkan pengalaman pribadi mereka.
Setelah penampilan solo, acara berlanjut dengan sesi jamming yang melibatkan kolektif lain seperti Nayamullah (DJ Rencong, Arifa Safura dan Kartika Solapung). Sesi ini menunjukkan bagaimana keberagaman suara dari berbagai budaya dapat menyatu dalam satu harmoni.
Program ini tidak hanya menjadi perayaan seni tetapi juga menciptakan dialog lintas budaya. Kolaborasi ini menampilkan kekuatan seni sebagai alat untuk mempererat hubungan dan memahami perbedaan.
Kolaborasi Lintas Institusi
Pavilion Indonesia di Gwangju Biennale 2024 di-organize oleh SAM (Sidharta Aboejono Martoredjo) Fund for Art and Ecology, lembaga yang menghubungkan seni dan ekologi melalui kegiatan kritis dan kreatif. SAM Fund mendukung seniman, peneliti, dan pekerja kreatif Indonesia melalui pendanaan karya seni, lokakarya, penelitian, serta partisipasi dalam pameran dan residensi internasional.
Pavilion Indonesia juga didukung oleh berbagai pihak. Dukungan datang dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Yayasan Gwangju Biennale, Tom H. Tandio, Mitha Budhyarto, Art Jakarta, Rubanah Underground Hub, dan Korea Foundation
Kolaborasi berbagai institusi ini memungkinkan para seniman Indonesia tampil di panggung internasional ini. Pavilion Indonesia menjadi wadah penting untuk membawa refleksi lokal dengan dampak global.
Nilai Strategis dan Bahasa Universal
Keikutsertaan Pavilion Indonesia di Gwangju Biennale 2024 merupakan momen strategis bagi seniman Indonesia. Ini adalah kesempatan untuk mempresentasikan kekayaan seni kontemporer bangsa di panggung global.
Acara ini tidak hanya memberikan ruang untuk menampilkan karya. Gwangju Biennale juga menjadi ajang membangun jejaring internasional dan memperkuat diplomasi budaya.

Menurut Rani Jambak, kegiatan ini memiliki nilai penting bagi seniman dan bangsa Indonesia.
“Kegiatan ini memberi kesempatan bagi seniman Indonesia untuk bersuara di panggung internasional. Selain bicara tentang seni, kita juga membawa cerita dan nilai-nilai yang lahir dari akar budaya kita,” ujarnya.
“Dalam setiap diskusi dan penampilan, saya merasa ada kesamaan pengalaman yang bisa dihubungkan, meskipun para seniman dan audiens berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan kita,” tambahnya.
Rani berharap partisipasi Indonesia di Gwangju Biennale dapat memberikan inspirasi kepada seniman muda.
“Melalui seni, kita bisa mengungkapkan isu-isu yang relevan tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia. Seni menjadi alat penting untuk mengingatkan kita tentang apa yang perlu diperjuangkan bersama,” pungkasnya. (*)








