Jelang Muktamar ke-35 NU Alumni Tambakberas Bedah Buku

SIARINDOMEDIA.COM-Tradisi literasi menjadi salah satu kekuatan yang terus terjaga di lingkungan pesantren. Ini juga yang dicontohkan para ulama-ulama masa lalu. Untuk terus menjaga tradisi tersebut, menjelang Muktamar ke-35 NU, alumni Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang me-launching, sekaligus bedah buku berjudul NU, Kiai dan Pesantren: Merawat Tradisi dan Moderasi, Menjaga NKRI.

Buku karya Prof. Dr. Drs. H.M. Zainuddin, B.A., M.A itu rencana dibedah pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Aula Yayasan PP Bahrul Ulum, Jombang.

Aula Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menjadi lokasi bedah buku NU, Kiai dan Pesantren pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Dalam buku tersebut, Zainuddin mengupas kiprah besar tokoh-tokoh NU. Secara tersirat, dalam buku tersebut diungkap, Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga kekuatan sosial, intelektual, dan kebangsaan yang telah memberi warna bagi perjalanan bangsa.

Berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, NU menghadirkan wajah Islam yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan zaman melalui peran kiai, pesantren, dan santri.

Buku karya alumni Ponpes Tambakberas ini mengulas secara komprehensif dinamika pemikiran NU, mulai dari Aswaja, fikih kontemporer, pemberdayaan ekonomi umat, transformasi pesantren, kaderisasi ulama, hingga kontribusinya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Buku ini menghadirkan refleksi kritis mengenai pemikiran tokoh-tokoh NU, seperti Gus Dur, KH. Hasyim Muzadi, KH. Tolchah Hasan, dan KH. Abdul Wahab Chasbullah, serta relasi NU dengan demokrasi, politik, dan tantangan masa depan.

Dalam ulasannya, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Malang itu menyebut di tengah dunia yang terus berubah, hanya sedikit institusi sosial-keagamaan yang mampu bertahan sekaligus tetap relevan menjawab tantangan zaman.

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satunya. Memasuki abad ke-2 perjalanan organisasi ini memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah gerakan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya jumlah pengikut atau luasnya jaringan kelembagaan, melainkan oleh kemampuannya merawat tradisi sambil terus melakukan pembaruan. Dari pesantren-pesantren sederhana di pelosok desa hingga ruang-ruang akademik dan kebijakan publik, NU telah menghadirkan wajah Islam yang tumbuh dari khazanah keilmuan klasik, namun tetap terbuka terhadap dinamika masyarakat modern. Di titik inilah NU menjadi lebih dari sekadar organisasi keagamaan; ia merupakan bagian penting dari perjalanan intelektual, sosial, dan kebangsaan Indonesia.

Sejak didirikan pada tahun 1926, NU tidak hanya mewarisi tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga membangun sebuah cara pandang yang menempatkan agama sebagai kekuatan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Para kiai tidak hanya mengajarkan kitab-kitab klasik di ruang-ruang pesantren, tetapi juga membangun kesadaran bahwa agama harus hadir untuk menjawab persoalan kemiskinan, pendidikan, kebangsaan, demokrasi, hingga keadilan sosial. Dari sinilah lahir karakter NU yang moderat, inklusif, dan adaptif tanpa kehilangan pijakan pada tradisi.

Dalam konteks Indonesia kontemporer, tantangan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama. Polarisasi politik, menguatnya politik identitas, penyebaran ujaran kebencian, hingga munculnya paham-paham keagamaan yang eksklusif menjadi bagian dari realitas yang tidak dapat diabaikan. Pada saat yang sama, persoalan ketimpangan ekonomi, kualitas pendidikan, dan daya saing sumber daya manusia juga menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama. Karena itu, NU dituntut tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga menjadi pelopor perubahan sosial yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Penulis meyakini bahwa kekuatan terbesar NU tidak hanya terletak pada organisasi atau struktur kelembagaannya, melainkan pada tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama dan terus hidup di lingkungan pesantren. Tradisi inilah yang melahirkan sikap tawassuṭ, tasāmuḥ, tawāzun, dan i’tidāl sebagai fondasi moderasi beragama. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, nilai-nilai tersebut bukan hanya menjadi identitas warga Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga persatuan bangsa dan memperkuat kehidupan demokrasi.

Karena itu, buku ini tidak dimaksudkan sebagai uraian sejarah organisasi atau pun kumpulan tulisan mengenai tokoh-tokoh NU semata. Lebih dari itu, buku ini merupakan ajakan untuk membaca kembali warisan intelektual para kiai sebagai sumber inspirasi dalam menjawab berbagai persoalan bangsa dewasa ini. Tradisi tidak boleh dipahami sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai sumber nilai yang terus memberi arah bagi masa depan. Moderasi bukan sekadar slogan, melainkan praktik sosial yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *