SIARINDOMEDIA.COM-Penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sebagai tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 pada 27–31 Agustus 2026 merupakan momentum yang sarat makna. Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin dipahami sebagai penghormatan terhadap salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia. Namun, bagi para alumninya, Tambakberas adalah ruang yang lebih luas daripada sekadar tempat menuntut ilmu agama. Ia adalah sekolah kehidupan yang menempa karakter, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan tradisi pengabdian.
Nama KH. Abdul Wahab Hasbullah tidak dapat dipisahkan dari sejarah Tambakberas maupun Nahdlatul Ulama. Beliau adalah salah satu pendiri sekaligus motor penggerak NU yang memiliki pandangan jauh ke depan. Gagasan beliau tidak hanya melahirkan sebuah organisasi keagamaan, tetapi juga membangun tradisi berpikir, tradisi berorganisasi, dan tradisi kepemimpinan yang hingga kini tetap hidup di lingkungan pesantren.
Warisan itulah yang saya rasakan ketika menjadi santri Bahrul Ulum sejak tahun 1996. Selain belajar ilmu-ilmu keislaman, kehidupan pesantren memperkenalkan saya pada dunia organisasi. Di Tambakberas, santri tidak hanya dididik menjadi pribadi yang memahami kitab, tetapi juga dibiasakan mengelola kegiatan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, menyelesaikan persoalan bersama, dan memimpin.
Saya memperoleh kesempatan belajar melalui berbagai organisasi, mulai dari Organisasi Daerah Ikatan Santri Karesidenan Cirebon (ISKC), OSIS MAN Tambakberas, Keluarga Pelajar Madrasah (KPM), hingga berbagai aktivitas kepesantrenan lainnya. Pengalaman-pengalaman tersebut mungkin tampak sederhana pada masanya, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam membentuk kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, serta keterampilan memimpin.
Saya baru menyadari besarnya pengaruh pendidikan organisasi itu ketika melanjutkan studi di IKIP Malang, yang kini menjadi Universitas Negeri Malang. Budaya aktif yang saya peroleh di pesantren terbawa secara alami. Saya terlibat dalam organisasi intra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF), dan Unit Kegiatan Mahasiswa bidang kepenulisan. Di luar kampus, saya aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) serta Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum (HIMMABA). Semua itu tidak terasa sebagai sesuatu yang baru karena benih-benih kepemimpinan telah ditanamkan sejak menjadi santri di Tambakberas.
Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa kekuatan utama Tambakberas bukan hanya terletak pada sistem pendidikan kitab kuning atau tradisi keilmuannya yang kuat, tetapi juga pada ekosistem organisasi yang hidup. Santri diberi ruang untuk belajar memimpin sekaligus belajar dipimpin. Mereka dibiasakan bertanggung jawab, bekerja sama, bermusyawarah, dan mengabdi kepada masyarakat. Nilai-nilai inilah yang kemudian melahirkan banyak tokoh di berbagai bidang, baik sebagai ulama, akademisi, birokrat, politisi, maupun pemimpin masyarakat.
Kini, ketika saya mengemban amanah sebagai dosen Bahasa Arab sekaligus Ketua Departemen Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, saya semakin menyadari bahwa banyak kemampuan kepemimpinan yang saya gunakan hari ini berakar dari proses panjang selama menjadi santri di Tambakberas. Kampus mengembangkan kapasitas akademik dan profesional saya, tetapi pesantren telah lebih dahulu membentuk karakter, etika kepemimpinan, semangat kolaborasi, dan orientasi pengabdian.
Karena itu, penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Tambakberas memiliki makna yang jauh melampaui penyelenggaraan sebuah forum organisasi. Muktamar ini menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa NU dibangun oleh para ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan mengorganisasi umat dan menyiapkan kader-kader pemimpin masa depan.
Di tengah tantangan era digital, disrupsi teknologi, dan perubahan sosial yang semakin cepat, NU membutuhkan lebih banyak pemimpin yang lahir dari karakter pesantren: rendah hati, berilmu, terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap kokoh memegang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Tambakberas telah membuktikan selama puluhan tahun bahwa pesantren mampu menjadi pusat kaderisasi kepemimpinan seperti yang dicontohkan KH. Abdul Wahab Hasbullah.
Muktamar NU ke-35 adalah kesempatan untuk meneguhkan kembali warisan tersebut. Dari Tambakberas, NU tidak hanya diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi organisasi, tetapi juga memperkuat kembali tradisi kaderisasi yang menjadi denyut nadi keberlangsungan jam’iyah. Sebab, organisasi yang besar bukan hanya ditentukan oleh gagasan-gagasannya, melainkan oleh keberhasilannya menyiapkan generasi penerus yang siap memimpin dengan ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian.
Bagi saya, Tambakberas akan selalu menjadi lebih dari sekadar almamater. Ia adalah kawah candradimuka yang membentuk cara berpikir, cara memimpin, dan cara mengabdi. Karena itulah, kembalinya Muktamar NU ke Tambakberas terasa seperti kembalinya NU ke salah satu mata air yang sejak awal telah menghidupi perjalanan organisasi ini.







