
SIARINDOMEDIA.COM-Suasana Senin (11/05/2026) di TPQ Al-Farony berbeda dari hari-hari sebelumnya. Deretan santri yang biasanya antre menyetorkan bacaan mengajinya satu per satu, sore itu menanti giliran beradu cepat menyusun huruf hijaiyah. Inovasi ini dirancang sebagai penguatan literasi huruf hijaiyah santri. Kegiatan yang berlangsung pada penutupan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang ini menjadikan momen perpisahan semakin berkesan.
Sebelumnya, tiga mahasiswa UIN Malang yang mengajar di TPQ Al-Farony telah melalui perjalanan pengabdian yang tidak singkat. Sejak pertengahan Januari 2026, ketiganya terlebih dahulu menjalani Asistensi Mengajar (AM) di MTsN 8 Kediri dari pagi sampai sore. Baru pulang dari sekolah hampir pukul setengah tiga dan tiba di posko sekitar seperempat jam kemudian. Jeda sebentar, mereka harus bergegas ke TPQ Al-Farony yang memulai pembelajaran pada 16.00 WIB. Begitu seterusnya, hampir setiap hari selama empat bulan.
Di TPQ, para mahasiswa mendampingi santri mengaji dengan metode Tilawati. Mereka terlibat dalam proses pembelajaran, membantu asatidz membimbing santri, menyimak bacaan dan hafalan, dan membangun kedekatan dengan santri-santri. Tak jarang, calon-calon pendidik dari Kota Apel itu memberikan rumus “ajaib” untuk memudahkan santri mengingat bacaan huruf hijaiyah dan doa-doa. “Kalau atasnya lengkung dibaca ‘a, kalau lurus dibaca kha,” terang Ainia menunjuk huruf yang masih sulit dibedakan santri jilid 1.
Selama empat bulan itu pula, mahasiswa KKM melihat langsung dinamika keseharian TPQ, seperti keterbatasan waktu pembelajaran dan jumlah pengajar. Alokasi waktu RPP selama 90 menit harus dipadatkan menjadi satu jam, membuat 4–5 asatidz harus mahir mengondisikan 40 santri. “Pengen kasih bimbingan intensif ke santri yang belum lancar, tapi jam sudah mepet waktu pulang,” dilema Eni mewakili pengajar lainnya. Memang tidak mudah, tetapi justru dari sana mereka menyadari betapa berartinya setiap hal kecil yang bisa dilakukan.

Pada hari terakhir, Senin (1/05/2026), mahasiswa KKM menghadirkan Fun Hijaiyah Game. Media yang digunakan pada lomba edukatif ini mereka buat sendiri dari bahan-bahan sederhana dan terjangkau. Mereka menyiapkan kotak tulis-hapus berlubang, stik es krim berlabel huruf hijaiyah, grid huruf hijaiyah, dan potongan kartu huruf. Sebagai mahasiswa pendidikan, mereka merancang pengenalan dan penyusunan huruf hijaiyah berdasarkan prinsip deep learning: joyful, mindful, dan meaningful. “Kami berharap pembelajaran yang menyenangkan dan kompetitif (joyful), mendorong santri menganalisis (meaningful), dan relevan dengan tahap belajarnya (mindful),” ujar Ainia.

Acara dibuka dengan pengarahan teknis lomba dan pengelompokan santri. Bukan berdasarkan usia, santri dikelompokkan menurut tahap mengaji masing-masing. Santri jilid 1–2 masuk ke zona Recall Class of Champion (COC) Huruf Hijaiyah. Mereka harus mengingat posisi Sembilan huruf hijaiyah dari grid kertas lalu menuliskannya kembali di papan tulis. Jilid 3–4 bermain Ramu Kata dengan menancapkan stik es krim berlabel huruf hijaiyah ke kotak sesuai kata yang tertulis. Sementara santri jilid 5 sampai Al-Qur’an bekompetisi di Rangkai Lafaz. Mereka harus menyusun potongan huruf hijaiyah yang membantuk lafaz dengan huruf sambung yang lebih kompleks dari jilid di 3–4.

Semua lomba berlangsung serentak dengan sistem duel. Di satu sesi, dua santri beradu kecepatan menyelesaikan tantangan sehingga suasana menjadi riuh dan penuh sportivitas. Menariknya, sepanjang sesi berlangsung, kelas justru lebih tertib dari biasanya. Santri yang kerap keluar untuk bermain atau membeli jajan, kali itu enggan melewatkan satu momen pun dari permainan yang berlangsung. Sebuah pemandangan yang tidak luput dari perhatian asatidz.
Selepas permainan, perwakilan mahasiswa menyampaikan sambutan sekaligus pamit kepada seluruh asatidz dan santri. “Terimakasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan atas kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan untuk dapat bergabung dan bekerjasama dengan TPQ Al-Farony,” ujar Ainia penuh syukur. Ustadz Toni sebagai Kepala TPQ mewakili asatidz turut mengucapkan rasa terimakasih atas bantuan tenaga dan pikiran mahasiswa selama ini. “Semoga penutupan ini tidak menjadi akhir silaurrahmi kita. Apabila Mbak-mbak ke Kediri, silahkan mampir. Pintu kami selalu terbuka,” tuturnya. Sebuah pesan yang membuat suasana semakin hangat dan penuh ketulusan.
Setelah sambutan, sorak-sorai kembali pecah saat pengumuman juara game. Hafidz, Kayla, dan Mila berurutan maju sebagai juara Recall COC Huruf Hijaiyah, Ramu Kata, dan rangkai Lafaz. Fun Hijaiyah Game meninggalkan kesan yang berari bagi mereka serta teman-temannya yang belum juara. Bagi para santri, ini adalah pengalaman pertama kegiatan belajar huruf hijaiyah yang terasa seperti bermain sungguhan. “Belum pernah ada kegiatan kayak gini sebelumnya,” sahut beberapa santri hampir bersamaan.

Acara ditutup dengan mushafahah lalu foto bersama. Momen sederhana, namun cukup untuk merangkum empat bulan kebersamaan dalam satu bingkai. Meskipun KKM resmi selesai, jejak para mahasiswa masih terasa dalam semangat santri-santri Al-Farony. Para santri itu kini tahu bahwa belajar huruf hijaiyah bisa menjadi petualangan yang seru.












