SIARINDOMEDIA.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri, tradisi angpau atau pemberian uang saat Lebaran menjadi momen berbagi rezeki yang tidak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga dan masyarakat.
Tradisi ini biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tua atau mereka yang telah memiliki penghasilan untuk memberikan kepada anak-anak maupun sanak saudara yang lebih muda. Selain sebagai bentuk berbagi kebahagiaan, pemberian angpau juga memiliki nilai sosial dan spiritual yang mendalam.
Dilansir dari unair.ac.id, Moordiati, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa pemberian angpau saat Lebaran awalnya merupakan hadiah dari orang tua kepada anak-anak sebagai bentuk apresiasi karena telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
“Pemberian angpau saat Lebaran awalnya merupakan hadiah dari orang tua kepada anak-anak sebagai bentuk apresiasi karena telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi kebiasaan yang mempererat tali silaturahmi dan mencerminkan semangat berbagi dalam masyarakat,” ujar Moordiati.

Dalam ajaran Islam, berbagi rezeki dengan sesama sangat dianjurkan, terlebih pada momen Lebaran yang penuh berkah. Rasulullah SAW bersabda:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” (HR. Bukhari, no. 1429; HR. Muslim, no. 1033), dikutip dari sunnah.com.
Dikutip dari quran.nu.or.id, hadis ini mengajarkan umat Islam untuk lebih banyak memberi daripada menerima, karena berbagi rezeki dapat menjadi sumber keberkahan. Selain itu, dalam Al-Qur’an juga disebutkan pentingnya membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan, sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 267:
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…,” (QS. Al-Baqarah: 267).
Tradisi Angpau di Berbagai Daerah
Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi pemberian angpau memiliki variasi tersendiri. Di Jawa, misalnya, dikenal dengan istilah salam tempel, sementara di Sumatra dan Kalimantan, tradisi ini sering dilakukan bersamaan dengan momen silaturahmi dari rumah ke rumah. Pemberian ini tidak selalu dalam bentuk uang, tetapi juga bisa berupa hadiah atau bingkisan kecil.
Seiring berkembangnya zaman, pemberian uang saku lebaran kini semakin bervariasi. Tidak hanya diberikan secara tunai, tetapi juga melalui transfer digital atau dompet elektronik. Hal ini mencerminkan adaptasi tradisi dengan kemajuan teknologi tanpa menghilangkan esensi kebersamaannya.
Dengan adanya tradisi ini, diharapkan semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama semakin meningkat. Lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momen untuk memperkuat tali silaturahmi dan menebar kebaikan kepada sesama.












