TRADISI MEGENGAN, RITUAL SLAMETAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADAN

SIARINDOMEDIA.COM – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Jawa Timur, menggelar tradisi Megengan. Tradisi ini merupakan bentuk slametan atau doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan dalam menyambut bulan penuh berkah.

Megengan berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menahan,” selaras dengan makna puasa di bulan Ramadan, yaitu menahan diri dari hawa nafsu.

Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum 1 Ramadan dengan mengundang keluarga, tetangga, dan kerabat untuk berkumpul serta berdoa bersama.

Dalam prosesi Megengan, masyarakat biasanya menyiapkan beragam sajian makanan, yang paling khas adalah kue apem.

Kue ini memiliki filosofi sebagai simbol permohonan ampunan kepada Tuhan. Kata “apem” sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab afwan, yang berarti maaf.

Selain itu, makanan lain seperti tumpeng dan jajanan tradisional juga disajikan dan dibagikan kepada para tamu.

DO’A BERSAMA. Beberapa orang muslim yang sedang melakukan Tradisi Slametan Megengan di salah satu rumah warga. Foto: AI/Ist

Salah satu warga Malang, Muriati (60), mengungkapkan bahwa Megengan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga momen untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun di keluarga kami. Selain berdoa bersama, kami juga saling berbagi makanan sebagai bentuk rasa syukur,” ujarnya.

Beberapa desa menggelar acara besar di masjid atau balai desa dengan melibatkan banyak warga, sementara yang lain melaksanakannya secara sederhana di rumah masing-masing.

Namun, esensinya tetap sama, yaitu sebagai bentuk persiapan spiritual dan sosial dalam menyambut bulan Ramadan.

Kelestarian Tradisi Megengan di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, tradisi Megengan masih lestari dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat.

Meski ada sebagian generasi muda yang mulai meninggalkannya, banyak pula yang tetap menjaga tradisi ini sebagai warisan budaya yang memiliki nilai religius dan sosial yang kuat.

Dengan digelarnya Megengan, masyarakat berharap dapat memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih, penuh keberkahan, dan lebih siap menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.

Tradisi ini menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan memberikan makna mendalam dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *