SIARINDOMEDIA.COM – Rajab Abu Bakar Jailani membakar semangat anak muda untuk produktif dalam menekuni perfilman melalui sebuah workshop film pendek. Workshop tersebut diadakan Social Movement Institude dalam rangkaian acara roadshow festival literasi di Toko Buku Togamas Dieng, Kota Malang, Sabtu, (20/7/2024).
Workshop film yang dihadiri kurang lebih 20an orang ini mengangkat tema film pendek, film dengan durasi singkat ini lebih sederhana dan cukup mudah dilakukan banyak orang.
Di Indonesia sendiri ada beberapa genre film pendek yang paling sering diproduksi seperti komedi, komedi romantis, romantis, horor, motivasi, aksi dan dokumenter.

Menurut Rajab, dalam pembuatan film semua orang bisa membuat filmnya sendiri-sendiri. Tapi yang membedakannya adalah bagaimana sebuah film itu bisa menarik dan orang mau menonton film itu.
“Film tanpa ide itu seperti memberikan anak TK sebuah HP untuk merekam. Lalu anak itu akan merekam apapun yang mereka inginkan tanpa ada ide atau konsep. Beda dengan kita kalau membuat film profesional, tentu harus memiliki ide yang dirangkai,” tuturnya.
Dalam tahap pembuatan film sendiri ada berbagai proses yang harus dilalui, seperti tahap development, pra-production, production, pasca production dan distribution.
“Tahap pengembangan ini penting sekali. Di sini kita akan menentukan arah film kita ke mana. Sedangkan tahap produksi ibarat kita memasak. Semua hal yang direncanakan pada tahap sebelumnya akan kita gabungkan di sini,” ujarnya.
“Yang tidak kalah penting juga dalam pembuatan film adalah tahap membangun ide cerita itu sendiri. bagaimana premisnya, logline, sinopsis dan skenario yang akan disajikan,” tambahnya.

Selain itu, lingkungan juga penting dalam membangun minat dalam membuat sebuah karya atau film.
“Joko Anwar yang dulunya bukan tamatan perfilman bisa membuat film yang sekarang kita nikmati begitu bagusnya. Saya juga begitu, berasal dari keluarga sederhana di NTT, yang dari segi ekonomi juga tidak terlalu mendukung untuk membeli peralatan kamera yang begitu mahal. Itu tidak menghapus semangat dan cinta saya terhadap perfilman,” imbuhnya.
“10 tahun lebih saya berkecimpung di dunia perfilman. Sudah 20 film yang saya garap, sampai tugas akhir saya pun tidak melalui skripsi, melainkan membuat film dokumenter,” terangnya.

Kegiatan semacam ini juga perlu untuk membakar semangat anak-anak muda untuk kreatif. Biasanya anak muda susah bergerak untuk berkarya karena keterbatasan fasilitas. Dengan adanya workshop ini menjadi motivasi untuk anak muda dalam berkarya dengan memulai dari apayang kita punya.
“Kreatif itu kan sekarang bermacam-macam, sesuai dengan perkembangan zaman. Dan dalam penulisan kreatif zaman dulu cenderung berkaitan dengan karya sastra seperti puisi dan lain-lain. Sedangkan di zaman sekarang penulisan kreatif banyak mengarah ke media digital,” sambung Latifa, audiens sekaligus dosen di salah satu kampus di Batu.
Pewarta:
Lalu Ahmad Albani Atsauri
Khairul Rozikin











