SIARINDOMEDIA.COM – Masoud Pezeshkian berhasil memenangkan putaran kedua pemilihan presiden Iran dengan mengalahkan Saeed Jalili yang merupakan seorang mantan negosiator nuklir garis keras.
Kantor berita The Associated Press pada Sabtu (6/7/2024) mengungkap Pezeshkian memperoleh total 16,3 juta suara dalam pemilihan yang digelar hari Jumat. Sedangkan Jalili mendapat 13,5 juta suara dari total 30 juta orang pemilih.
Sebelumnya, diperkirakan pemilih sebesar 49,6% yang memberikan suaranya terbilang masih rendah dalam sejarah pemilihan presiden Iran. Mereka menghitung setidaknya ada 607.575 suara yang dibatalkan, dan menjadi tanda protes bagi mereka yang menolak kedua kandidat.
Diketahui ada lebih dari 61 juta warga Iran yang berusia di atas 18 tahun dan berhak memberikan suara. Kemudian 18 juta di antaranya berusia sekitar 18 hingga 30 tahun. Pemungutan suara seharusnya ditutup pukul 6 sore, tetapi diperpanjang sampai tengah malam guna meningkatkan partisipasi masyarakat.
Untuk merayakan terpilihnya Masoud Pezeshkian yang merupakan seorang ahli bedah jantung dan anggota parlemen lama sebagai Presiden Iran yang baru, para pendukung memasuki jalan-jalan di Teheran dan kota lain sebelum fajar tiba.
Namun kemenangan ini tak serta merta bisa membuat Masoud Pezeshkian merasa lega. Lantaran saat ini Iran masih berada dalam situasi yang sulit, menyusul adanya ketegangan tinggi di Timur Tengah berkaitan dengan konflik Israel-Hamas.
Pemilihan presiden juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional. Mengingat Iran sempat meluncurkan serangan langsung terhadap Israel pada bulan April karena perang di Gaza.
Sedangkan kelompok milisi yang dipersenjatai Teheran seperti Hizbullah Lebanon maupun pemberontak Houthi Yaman terlibat dalam pertempuran dan telah meningkatkan serangan.
Program nuklir Iran yang terus berkembang dan pemilihan umum di Amerika Serikat November mendatang, berpotensi membahayakan peluang terjadinya detente antara Teheran dan Washington.
Karena tak menang telak atas Jalili, Pezeshkian tentu perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan ke depannya.
Meski menyebut dirinya sebagai reformis dan kaum moderat dalam teokrasi Iran selama masa kampanye, Pezeshkian pada saat yang sama begitu menghormati Garda Revolusi paramiliter Iran.
Dia kini resmi terpilih menggantikan kursi yang ditinggalkan almarhum Presiden Iran Ebrahim Raisi yang meninggal dunia akibat kecelakaan helikopter pada 19 Mei 2024 lalu.














