CEGAH BULLYING, TIM QORYAH THOYYIBAH UIN MALANG TINGKATKAN KESADARAN BERBAHASA DI PONPES AL ISLAHIYAH SINGOSARI

SIARINDOMEDIA.COM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Malang melalui tim Qoryah Thoyyibah mengadakan pengabdian masyarakat di Pondok Pesantren (Ponpes) Putri Al Islahiyah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran berbahasa sebagai tindakan pencegahan terhadap bullying atau perundungan di Ponpes Al Islahiyah yang berada di Jl. Kramat Kelurahan Pagentan, Singosari, Kabupaten Malang.

Ada pun bentuk pengabdian masyarakat ini dalam bentuk pelatihan dan pendampingan dalam 7 kali pertemuan. Sedangkan peserta pengabdian masyarakat berjumlah 30 santri.

Pertemuan pertama, yakni pengenalan tentang apa itu bullying atau perundungan. Pada pertemuan tersebut santri ditanya tentang pengalaman pribadi mereka dan seperti apa pengetahuan mereka tentang bullying atau perundungan. Pertemuan perkenalan ini dilakukan sebagai follow up yang mengkonfirmasi hasil pengamatan pertama yang disebutkan di atas.

Memahami Bullying sebagai kesadaran berbahasa untuk cegah perundungan
MEMAHAMI BULLYING. Para santri diperkenalkan tentang pengertian dari perundungan atau bullying. Foto: Ist

Pertemuan kedua, langsung masuk pada kegiatan pelatihan tahap 1. Pada kesempatan ini tim pengabdian memberikan pelatihan tentang pentingnya Bahasa dan juga mengundang narasumber yang ahli di bidang ini.

Materi yang disampaikan oleh narasumber ini membahas tentang  Bahasa, Makna, dan Realita.

Setelah pemateri utama selesai menyampaikan materinya, tim pengabdian mematangkan dengan lebih intens untuk membahas lebih detail lagi tentang apa itu Bahasa, bagaimana hubungannya dengan makna, dan bagaimana penggunaan Bahasa dalam realitas kehidupan.

Bahasa, Makna, Realita sebagai kesadaran berbahasa untuk cegah perundungan
BAHASA, MAKNA, REALITA. Para santri diajarkan tentang pentingnya bahasa. Foto: Ist

Sedangkan pada pertemuan ketiga, yakni pelatihan tahap 2. Pada pertemuan ini, tim pengabdian memberikan pelatihan tentang kesopanan berbahasa dan juga mengundang narasumber ahli di bidang ini.

Materi yang disampaikan oleh narasumber ini membahas tema tentang Kesantunan Berbahasa dalam Berkomunikasi bagi Remaja. Setelah pemateri selesai menyampaikan materinya, tim pengabdian mematangkan dengan lebih intensif lagi tentang perkembangan Bahasa di kalangan remaja dan bagaimana berkomunikasi dengan tetap terdengar gaul namun juga tetap sopan dan santun.

Gaul tapi sopan
GAUL TAPI SOPAN. Mengajarkan kepada para santri cara berkomunikasi yang luwes dengan tetap memperhatikan adab sopan santun. Foto: Ist

Pada pertemuan keempat ,yakni pelatihan tahap 3. Pada pertemuan ini, tim pengabdian memberikan pelatihan tentang etika berbahasa lisan dan juga mengundang narasumber yang ahli di bidang ini.

Materi yang disampaikan oleh narasumber membahas tema tentang Qaulan Sadida: Etika Berbahasa Sebagai Pencegahan Verbal Bullying. Setelah pemateri selesai menyampaikan materinya, tim pengabdian mematangkan dengan lebih intensif lagi tentang contoh-contoh berkomunikasi lisan dengan sopan dan santun.

Pada akhir pelatihan, santri diberikan kuesioner sebagai tahapan evaluasi 1.

Qaulan Sadida
QAULAN SADIDA. Pelatihan tentang etika berbahasa. Foto: Ist

Pertemuan kelima yakni pendampingan tahap 1. Pada proses pendampingan ini, santri diberikan ringkasan dan contoh-contoh cara berkomunikasi di kalangan pondok pesantren.

Pendampingan juga diikuti dengan praktik percakapan dengan topik–topik yang diberikan oleh tim pengabdian dan dipraktikkan secara berkelompok dan bergantian antar kelompok.

Pengelompokan
CONTOH BERKOMUNIKASI. Para santri dibagi beberapa kelompok untuk mempraktikan percakapan dengan topik tertentu. Foto: Ist

Pertemuan keenam yakni pendampingan tahap 2. Pada proses pendampingan ini, santri diberikan contoh-contoh cara berkomunikasi di kalangan pondok pesantren dengan situasi yang berbeda dengan pendampingan pertama. Pendampingan ini juga diikuti dengan praktik percakapan dengan topik – topik yang diberikan oleh tim pengabdian dan dipraktikkan secara berkelompok dan bergantian antar kelompok.

Sedangkan pada pertemuan ketujuh yakni pendampingan tahap 3. Pada proses pendampingan ini, santri diberikan contoh-contoh cara berkomunikasi di kalangan pondok pesantren dengan situasi yang berbeda dengan pendampingan pertama dan kedua. Pendampingan ini juga diikuti dengan praktik percakapan dengan topik–topik yang diberikan oleh tim pengabdian dan dipraktikkan secara berkelompok dan bergantian antar kelompok.

Praktik berkelompok
PENDAMPINGAN CARA BERKOMUNIKASI. Praktik percakapan melalui kelompok. Foto: Ist

Di akhir pertemuan pendampingan, santri diberi kuesioner sebagai evaluasi tahap 2.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *