SIARINDOMEDIA.COM –Awal September, reporter Siarindo Media, Nabila Zulfa, mengikuti Program Pengabdi Negeri ke Pulau Bungin, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selama dua minggu berada di salah satu pulau terpadat di dunia itu, Nabila akan mengeksplorasi pengalaman serta berbagai peristiwa yang dijalaninya selama di sana. Berikut kisahnya yang dimuat berseri:
Tradisi Sempo Jejaran Kecimol digelar pada Sabtu (9/9/2023) di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB.
Tradisi Sempo Jejaran Kecimol merupakan tradisi asal Lombok yang rutin dilakukan sebelum anak dikhitan.
Tradisi yang diramaikan dengan cara arak-arakan ini berhasil mengajak seluruh warga hadir hingga meriah.

Anak yang akan segera dikhitan di arak dengan menaiki kuda atau hiasan yang diikuti dengan warga serta iringan musik dalam setiap langkahnya. Setelah arak-arakan berakhir dilanjut dengan proses khitan di hari berikutnya.

Tidak berhenti disitu saja, setelah khitan mereka wajib melakukan ritual mandi dengan air bunga dan disusul dengan berendam di air laut sekitar 20 menit.
“Setelah sunat (khitan) itu ada mandi kembang oleh anak2 itu baru dibawa ke laut. (Itu dilakukan) setelah tiga hari sunat,” jelas Mahmud, seorang warga Pulau Bungin.

Meski demikian, tradisi ini bukanlah asli Pulau Bungin, melainkan tradisi dari Lombok yang perlahan masuk dan akhirnya diadopsi masyarakat pulau tersebut.
“Sebenarnya saya tidak setuju ada acara begini karena bukan tradisinya, Rebana harusnya, bergeser dari Lombok sudah ini,” jelas Erwin selaku Babinkamtimbas Pulau Bungin Kecamatan Alas.

Walau Tradisi Sempo Jajaran Kecimol ini berlangsung meriah setiap digelar, namun Erwin berharap tradisi rebana asal Bungin kembali dijalankan dan dilestarikan.











