YESIL CAMII, MASJID HIJAU PENUH PESONA PENINGGALAH KHALIFAH USTMANIYAH

BY: HALIMI ZUHDY

SIARINDOMEDIA.COMDr. Halimi Zuhdy merupakan seorang sastrawan, dai dan akademikus di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pengasuh Ponpes Literasi Darun Nun Malang ini tengah melakukan kunjungan ke Turki. Dalam kunjungannya, pengasuh Ponpes Literasi Darun Nun Malang ini aktif menuliskan berbagai pengalamannya di Negeri Kebab tersebut. Beberapa tulisannya juga dikirimkan khusus ke siarindomedia.com. Berikut pengalaman perjalanan spiritual Dr. Halimi Zuhdy yang diceritakan dalam gaya bahasa bertutur:

Bursa adalah kota pertama yang saya kunjungi di Turki. Setelah mendarat di Bandara Internasional Istanbul, beberapa jam kemudian menuju kota Bursa.

Dalam perjalanan menuju kota kuno ini, mata dibuat tidak berkedip memotret keindahan pemandangan alam Turki. Mata seperti dimanja, mau memandang apa saja tampak begitu mempesona. Melewati pegunungan yang megah, hutan yang hijau, dan lembah yang subur, menciptakan latar belakang yang artistik, belum lagi lautan dan sampannya yang memikat hati untuk ikut bergelombang di dalamnya, lautan dan langitnya seperti menyatukan cinta.

Ketika saya mendekati kota Bursa, pesona sejarahnya mulai memikat. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota tertua di Turki dan memiliki sejarah yang kaya dengan peninggalan-peninggalan penting. Pernah dijuluki “Hadiah Tuhan” dalam bahasa Turkinya Hüdavendigar, sekarang lebih dikenal dengan Yesil Bursa (Bursa Hijau).

Kota Ini, merupakan ibu kota besar pertama dari keseluruhan dua wilayah Kehilafahan Utsmaniyah antara tahun 1335 dan tahun 1363, arsitektur tradisional Turki yang terlihat di sepanjang jalan dan sangat terasa sekali aura kuno yang masih terasa di setiap sudutnya.

Oh, iya  yang ingin ke sini, jangan lupa siapkan kamera untuk merekam bangunan-bangunan kuno dengan aura magisnya.

Sebelum ke Yesil Camii saya mengunjungi Masjid Ulu Camii. Wudhu’ terlebih dahulu sebelum masuk dan shalat tahiyyah Masjid, sambil menikmati sentuhan kaligrafinya. Selanjutnya, melanjutkan perjalanan menuju Masjid Yesil Camii, yang terletak tidak jauh dari Masjid Ulu Camii.

Ketika memasuki kompleks masjid ini, kita akan terpesona oleh keindahan arsitektur kekhalifahan Utsmaniyah yang elegan. Batu hijau yang menghiasi dinding dan menara menambahkan sentuhan unik yang membedakan masjid ini dari yang lain. Maka, kemudian masjid dikenal dengan dengan sebutan Masjid Hijau (Green Mosque). Di dalamnya, banyak sekali hiasan kaligrafi yang halus dan ornamen yang memukau yang mencerminkan keanggunan seni Islam. Dan tentunya warna hijau yang paling banyak menyelimuti masjid ini.

Di Masjid Ulu Camii
MASJID AGUNG. Penulis dengan latar belakang keanggunan arsitektur Islam. Foto: Ist/Dok Pri

Kata “Camii” bahasa Turki, kalau dalam bahasa Arab adalah Jami’, kata Camii diserap dari bahasa Arab yaitu jamik (جامع). Kalau dalam bahasa Indonesia, lebih dikenal dengan Masjid Jamik, atau Masjid Raya, atau Masjid Agung.

Camii adalah Masjid besar yang dibuat shalat berjamaah lima waktu dan shalat Jum’at. Kata “Ulu” dalam bahasa Turki, bermakna agung. Sepertinya, kata ini serapan juga dari bahasa Arab, yaitu ‘uluw (علو، عالى) bermakna tinggi atau agung. Ulu Camii, bermakna Masjid Raya, atau Masjid Agung Jami. Wow, nama-namanya ternyata dari bahasa Arab. Sedangkan Yecil (Yeşil) bermakna hijau, Yecil Camii, adalah masjid Hijau.

Masjid Yesil Camii dikelilingi taman bunga yang indah, menciptakan suasana yang tenang dan damai di sekitarnya. Saya dapat menikmati keindahan alam dan menikmati momen yang tenang di lingkungan sekitar masjid.

Dalam Al-Ma’rifah, pembangunan Yecil Cami dimulai pada tahun 1413 M (dengan sumber yang berbeda mengenai tanggal ini). Sepeninggal Sultan, putranya, Sultan Murad II, menyelesaikan pembangunan masjid pada Desember 1419 M atau Januari 1420 M. Masjid ini merupakan bagian dari kompleks yang lebih besar yang mencakup sebuah madrasah, taman, serta makam Sultan Mehmet I dan keluarganya. Konstruksi masjid ini selesai pada tahun 1424 di bawah pemerintahan Sultan Murad II.

Di Masjid Yesil Camii
BERUSIA 600 TAHUN. Peninggalan Khalifah Utsmaniyah. Foto: Ist/Dok Pri

Dua ruang ibadah simetris di kanan dan kiri masjid digunakan untuk membicarakan hal-hal yang berasal dari para sanjak (Sanahik, pemerintah daerah). Ruangan timur diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari Beylerbeylik Anatolia (tanah Kesultanan Utsmaniyah yang terletak di bagian Asia), sedangkan ruangan barat dibuat untuk Rumeli Beylerbeylik (tanah Kesultanan Utsmaniyah yang terletak di kawasan Eropa). Belakangan, kedua ruangan tersebut digunakan sebagai ruang sidang (Al-Ma’rifah).

Dalam perjalanan ini, saya melihat kombinasi keindahan alam dan keajaiban arsitektur Islam yang membuat Turki begitu memikat, apalagi kalau mengingat masa lalu bagaimana kekhilafahan Utsmaniyah berkembang. Setiap langkah kaki di sini, lebih dekat pada warisan budaya dan spiritualitas yang hidup di Masjid Ulu Camii dan Masjid Yesil Camii. Anda akan meninggalkan dengan kenangan yang tak terlupakan dan pengalaman yang memperkaya jiwa.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *