MEMBACA TREN WARUNG KOPI DI KOTA MALANG BEBERAPA TAHUN KE DEPAN

SIARINDOMEDIA.COM – Memasuki hari kelima sejak dibuka pada tanggal 6 April, Pasar Santai bersama Kondimen menggelar talkshow terkait dunia industri warung kopi (Warkop) di Kota Malang, Jumat (14/4/2023). Dalam agenda yang dilaksanakan di Gedung Malang Creative Center (MCC) ini, Rexi & Danriz dari Kondimen memandu jalannya diskusi mulai awal hingga akhir.

Workshop bertajuk “Kopitiam dan Warkop?” tersebut mendatangkan tiga narasumber, diantaranya Dede dari Toko Kopi Jaya, Firman dari Warkop Djayanti dan Rigel dari Toko Kopi Kongca.

Ketiga narasumber tersebut menyampaikan pandangan mereka mengenai dinamika warung kopi di Kota Malang. Mulai dari menu, pasar hingga tren beberapa tahun ke depan.

“Menurut saya tren ke depan ada di kopi yang siap minum. Karena ke depannya semakin banyak orang-orang butuh kebutuhan secara prospek, ya,” ujar Dede.

“Tapi sekalipun atau apapun trennya ketika sudah hilang. Yang saya garis besari adalah bagaimanapun industri ini (warung kopi) adalah industri profit,” imbuh pria yang mewakili Toko Kopi Jaya tersebut.

Selain itu bagi Dede, setiap warung kopi memiliki pasar masing-masing. Kebutuhan konsumen pada beberapa warkop atau kopitiam tertentu juga dipengaruhi selera dan tujuan dari konsumen itu sendiri.

Link Banner

“Apapun trennya, baik itu naik atau turun, sebuah warkop akan tetap hidup. Karena kembali lagi, terkadang bisnis itu tutup bukan karena tren atau competitor, melainkan karena internalnya,” tegas Dede.

Lebih jauh lagi Dede memaparkan, jika sebuh warkop sudah memiliki menu original kemudian tiba-tiba menggeser atau mengganti menu original tersebut dengan menu yang sedang tren, maka tidak secara langsung warkop tersebut mematikan bisnisnya sendiri. Sebab menurut Dede, keputusan tersebut akan membuat bingung konsumen tentang ciri khas warkop itu sendiri.

“Jadi buat saya yang terpenting adalah seni beradaptasi, tata kelola yang baik lalu kita melakukan itu secara konsisten,” ujar Dede lagi.

Di sisi lain, Rigel perwakilan dari Toko Kopi Kongca juga satu suara dengan apa yang diutarakan Dede. Meski demikian, Rigel juga memiliki pandang sendiri bahwa tren ke depan warkop yang ramai dikunjungi adalah warkop yang menyediakan makanan berat.

“Kalau tren ke depan di luar dari kopi, tapi secara umum tetap di F&B, saya lihat adalah tempat nongkrong yang menyediakan tempat makan. Artinya ada menu makanan berat. Jadi bisa ngopi sekalian makan,” ujar Rigel.

Sama dengan kedua narasumber sebelumnya, Firman Kharismawan dari Toko Kopi Djayantie juga sependapat bahwa setiap warkop memiliki pasarnya masing-masing.

“Kebanyakan tren kan muter ke situ-situ. Kadang orang-orang pingin ke kafe terus kalo bosen balik ke warkop terus ke kafe lagi. Kan memang pasarnya sendiri-sendiri dan tergantung kita ngopi sama siapa,” papar Firman memungkasi penjelasan ketiga narasumber dalam talkshow tersebut.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *