CAK KOMPOR, DOSEN YANG ‘NYAMBI’ JADI SENIMAN LAWAK

SIARINDOMEDIA.COM – Menjadi seorang Dosen Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang tak membuat Cak Kompor malu untuk terjun merambah menjadi seorang seniman lawak di atas panggung. Dia bahkan dengan bangganya mengatakan bahwa menjadi seorang seniman adalah bagian dari panggilan jiwanya.

Pemilik nama asli Engelbertus Kukuh Widijatmoko, M.Pd ini sudah menggeluti dunia seni pertunjukan selama 5 tahun.

“Ya pertama ngemsi-ngemsi manten. Lalu semenjak bertemu dengan Cak Siwur itulah saya tertarik dengan dunia lawak,” ucap Kukuh yang memiliki nama panggung Cak Kompor.

Menurutnya dunia seni merupakan dunia untuk memperluas perspektif dan mindset yang ada pada masing-masing individu.

“Seni juga sebagai cermin bagi manusia individu dan manusia kolektif atas peristiwa sosial yang terjadi,” ucapnya.

Jelang Manggung
JELANG MANGGUNG. Cak Kompor (tengah) saat akan melawak di suatu acara. Foto: Ist

Dia juga mengatakan jika melawak sebenarnya adalah peristiwa sosial yang dapat menimbulkan interaksi sosial yang luar biasa. Bukan hanya sekedar interaksi, melainkan juga sebagai media menurunkan kondisi psikologis masyarakat yang sedang dirundung berbagai masalah.

Pria kelahiran Malang, 3 Agustus 1972 ini mengungkapkan bahwa melawak sebenarnya juga tak harus selalu ‘ngeres’, dalam artian hanya mencari bahan tertawaan penonton melalui joke yang agak tabu. Namun melawak sebenarnya juga bisa sebagai kritik sosial terhadap apa yang terjadi.

“Dunia lawak merupakan ranah untuk refleksi sosial, bahkan menertawakan diri sendiri agar menurunkan tensi individu menuju kolektif,” ucap pria yang selalu menggunakan blangkon ini.

Dosen yang juga seniman lawak
DOSEN YANG JUGA SENIMAN LAWAK. Disela-sela aktifitas mengajar, masih menyempatkan diri untuk poadcast. Foto: Bayu Kusumaleksana

Cak Kompor berharap agar dunia seni yang mulai kembali bergerak setelah 2 tahun mode senyap karena pandemi, terus mengalami perkembangan dan memunculkan generasi-genarasi penerus.

“Karena jati diri bangsa, terletak pada identitas khas dari bangsa itu sendiri. Kalau sekarang seni terutama tradisi yang menjadi nilai dari bangsa ini sudah tak bertaring, mau bagaimana lagi kita menunjukkan keaslian bangsa ini,” pungkasnya.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *