SIARINDOMEDIA.COM – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Kelompok KKN FP UB 2025 Desa Plangkrongan sukses melaksanakan program kerja unggulan bertajuk top working durian, sebuah inovasi penyambungan pohon durian yang bertujuan meningkatkan kualitas buah durian lokal.
Program ini dilaksanakan selama empat hari pada minggu ketiga pelaksanaan KKN. Total sebanyak 100 pohon durian berhasil disambung. Menerapkan teknik top working menggunakan entres durian unggulan khas desa Plangkrongan, yaitu durian saman. Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa KKN Fakultas Pertanian UB di bawah bimbingan Adi Setiawan, S.P., M.P., Ph.D selaku dosen pembimbing lapangan.
Menurut Eka Firmando Stp, mahasiswa Agroekoteknologi sekaligus koordinator desa (kordes) KKN, program ini dilatarbelakangi potensi besar yang dimiliki Plangkrongan sebagai daerah penghasil durian. Di desa ini juga terdapat Durian Research Center yang aktif melakukan pengembangan varietas durian.
“Kami ingin mendukung ikon desa ini durian saman agar semakin menonjol, sekaligus ikut menyokong ketahanan pangan sebagaimana tercantum dalam poin SDGs,” jelas Eka.
Respon Warga Terhadap KKN FP UB

Antusiasme warga menjadi bagian penting dari kesuksesan program. Tak hanya mendukung secara teknis, warga juga aktif membantu pelaksanaan di lapangan, mulai dari penyediaan bahan hingga tenaga. Bahkan, perangkat desa turut terlibat langsung.
“Nilai gotong royong sangat terasa. Warga selalu menjamu kami, ikut turun tangan, dan menjadikan suasana pelaksanaan program sangat hangat dan bermakna,” ujar Eka.
Kesan mendalam juga dirasakan para mahasiswa selama hidup berdampingan dengan masyarakat desa. Eka menyebut bahwa selama KKN, ia merasa seolah berada di kampung halamannya sendiri.
“Kami dianggap seperti anak cucu mereka sendiri. Warga begitu terbuka, tulus, dan melibatkan kami dalam berbagai kegiatan desa. Saat acara perpisahan, semua warga hadir. Tangis kami pecah malam itu. Rasanya seperti meninggalkan keluarga sendiri,” tambahnya.
Program top working durian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bisa berjalan harmonis. Ditambah dengan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ini memberikan kenangan tak terlupakan bagi mahasiswa yang terjun langsung ke desa.













