SIARINDOMEDIA – Ratusan pengunjung memadati Taman Krida yang terletak di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Jl. Soekarno Hatta, Malang untuk menyaksikan pertunjukan seni Topeng Panji Mangu.
Antrian panjang mengular di pintu masuk sebelum acara dimulai, menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap seni tradisional ini. Dalam suasana yang penuh semangat, para peserta dan penonton menyambut pertunjukan yang bertujuan mengekspresikan proses pencarian jati diri setelah kehilangan orang tercinta.

Pertunjukan ini merupakan karya kolaborasi dari berbagai sanggar tari di Malang yang menyiapkan diri selama dua bulan. Para penari tampil mengenakan topeng khas dan mengenakan kostum berwarna-warni, memperlihatkan keindahan serta filosofi dari seni topengan Malang.
Rangkaian latihan yang intensif ini dimaksudkan untuk membawa penonton masuk ke dalam kisah emosional tentang kehilangan dan pencarian makna hidup.

Fungsi Topeng Panji Mangu sebagai warisan budaya
Topeng Panji Mangu sendiri adalah bagian dari warisan budaya yang berfungsi sebagai media untuk menyampaikan cerita-cerita adat dan mitos yang kaya akan nilai-nilai kehidupan.
Menurut MC, Bagas, pertunjukan ini juga bertujuan mengenalkan kekinian yang relevan dengan generasi muda. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur menyebut, acara ini sebagai wadah inovatif yang menyesuaikan cara memperkenalkan kesenian tradisional agar tetap hidup dan dikenal luas.

Ia juga menyatakan bahwa seni topengan harus terus dikembangkan dengan pendekatan yang modern agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Ia menambahkan, kolaborasi dengan generasi muda bisa memperkuat keberlanjutan seni tradisional ini.
“Kami berharap, melalui pertunjukan seperti ini, budaya kita tetap hidup dan mampu bersaing di era digital,” ujarnya.
Selain sebagai pertunjukan seni, acara ini juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya asli Indonesia.
Pengunjung tampak terharu dan terkesan dengan kedalaman cerita serta simbolisme yang terkandung dalam pertunjukan. Beberapa dari mereka bahkan menyatakan akan lebih aktif mengenal dan melestarikan kesenian daerah setelah menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dengan demikian, Topeng Panji Mangu di Taman Krida tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi dan refleksi atas proses pencarian identitas di tengah kehilangan.
Pilihan tampil dengan metode kekinian dan kolaborasi generasi muda diharapkan mampu membawa seni tradisional ini berkembang dan tetap relevan. Acara ini merupakan langkah nyata mempromosikan kekayaan budaya Indonesia kepada semua kalangan dan memastikan nilai-nilai lokal tetap hidup di tengah era modernisasi.












