USTADZ ADRIANO RUSFI, “SUNGGUH TAK SEKALIPUN TUHAN MENCIPTAKAN MANUSIA CACAT!”: MEMBANGUN PARADIGMA EKSTRABILITAS DI TENGAH KELUARGA

SIARINDOMEDIA – Suasana hangat menyelimuti kompleks Masjid Abu Dzar Al-Ghifari, Lowokwaru, Kota Malang, pada Selasa, 8 Juli 2025. Sekitar puluhan wali santri anak-anak disabilitas berkumpul dalam sebuah seminar bertajuk “Rekonstruksi Total Paradigma Disabilitas: Sungguh Tak Sekalipun Tuhan Menciptakan Manusia Cacat! From Disability to Ekstrability.”

Seminar ini menghadirkan Ustadz Adriano Rusfi, seorang psikolog sekaligus pakar parenting. Beliau dikenal dengan pendekatan spiritual dan humanis dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan gaya tutur yang kuat namun menyentuh hati, Ustadz Adriano menggugah kesadaran para orang tua tentang pentingnya mengubah cara pandang terhadap disabilitas.

“Ekstrabilitas (adalah) sebuah cara pandang, sikap, dan perlakuan yang harus kita ubah ke dalam konsep yang baru yang menempatkan orang-orang dengan kondisi fisik dan mental yang berbeda dari mayoritas populasi sebagai hamba Allah yang sepenuhnya sempurna. Lalu memperlakukan dan mendidiknya, untuk menjadi manusia sukses yang berbahagia, potensi yang teraktualisasi dengan optimal, serta bermanfaat bagi kehidupan dan orang lain,” tegasnya di hadapan peserta seminar.

USTADZ ADRIANO RUSFI, “SUNGGUH TAK SEKALIPUN TUHAN MENCIPTAKAN MANUSIA CACAT!”: MEMBANGUN PARADIGMA EKSTRABILITAS DI TENGAH KELUARGA
Para orang tua yang mengikuti seminar ustadz Adriano Rusfi (Muhammad Aslam Fauzi)
Peran orang tua dalam pendidikan santri disabilitas

Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi para wali santri bahwa anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya berhak mendapatkan perhatian lebih. Tetapi juga hak atas pendidikan agama yang mendalam dan menyeluruh.

Lebih dari itu, seminar ini ingin menanamkan keyakinan bahwa setiap anak, apapun kondisinya, diciptakan Allah dengan kesempurnaan dalam kapasitasnya masing-masing. Selama orang tua mengikuti seminar, para santri disabilitas pun tak kalah semangat.

Mereka mengikuti kegiatan belajar dan bermain Al-Qur’an di kelas-kelas yang dibimbing oleh para relawan. Suasana penuh keceriaan dan semangat belajar tampak dari wajah-wajah polos mereka.

Bu Nita, selaku pembina yayasan sekaligus penyelenggara kegiatan, menyampaikan harapannya agar program ini menjadi langkah awal perubahan besar.

“Harapannya anak-anak bisa mandiri, punya akidah yang kuat, agar di masyarakat itu tidak mudah untuk dibully. Kedua adalah dakwah ini bisa meluas di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, benih-benih harapan ditanamkan bahwa dari paradigma lama tentang “disabilitas,” kini saatnya masyarakat beralih menuju konsep “ekstrabilitas,” yang menyoroti potensi luar biasa dalam diri setiap anak, tanpa terkecuali.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *