SIARINDOMEDIA – Siapa sangka, Kota Malang ternyata memiliki satu destinasi edukatif yang masih jarang diketahui masyarakat luas, yaitu Museum Mpu Purwa. Berlokasi di tengah kawasan perumahan Griya Santa, tepatnya di Jl. Soekarno Hatta No.210 Blok B, Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Meski terletak di lokasi yang strategis, museum ini kerap luput dari perhatian publik. Padahal, akses masuk ke museum ini sangat mudah dan menarik, pengunjung cukup memindai QR code secara gratis tanpa pungutan biaya sepeserpun untuk bisa menikmati ragam koleksi sejarah yang ditawarkan. Museum ini buka setiap hari Senin sampai Sabtu, sedangkan tutup di hari Minggu. Jam operasional museum ini dibuka pada pukul 08.30 pagi sampai dengan 15.00 WIB.

Cagar budaya Kota Malang
Museum ini menyimpan perjalanan panjang dalam pelestarian benda-benda cagar budaya di Kota Malang. Sebelum diresmikan sebagai Museum Mpu Purwa pada 14 Juli 2018, tempat ini awalnya hanyalah balai penyelamatan benda-benda cagar budaya bersejarah yang berserakan dan kurang terawat. Pada tahun 2000, muncul gagasan untuk mengumpulkan semua benda purbakala yang tersebar di berbagai wilayah Kota Malang oleh Dinas Pendidikan Kota Malang.
Pada awalnya, sebagian ruang di Perpustakaan Umum Kota digunakan untuk menyimpan koleksi tersebut. Namun, karena keterbatasan ruang dan pertimbangan lain, akhirnya pada tahun 2001 gedung bekas SDN Mojolangu 2 dijadikan tempat penyimpanan utama. Seiring waktu, tempat tersebut berkembang menjadi museum dengan nama Mpu Purwa, yang kini menyimpan 136 koleksi berharga.
Bangunan museum terdiri atas dua lantai. Lantai pertama menampilkan kubus pintar, berbagai prasasti dan arca tokoh dewa-dewa dalam mitologi, serta batu gores kuno yang menarik perhatian. Sedangkan lantai kedua menyajikan informasi sejarah candi-candi di Jawa Timur, mini diorama, linimasa sejarah nusantara, dinding koleksi, diorama, koleksi batu, serta prasasti dan arca dari berbagai zaman.



Artefak bersejarah
Salah satu artefak yang menarik dengan ukuran lumayan besar adalah arca Ganesya Bunul/Bunulrejo, dengan bagian leher hingga kepala yang hilang. Keistimewaannya adalah bahwa di belakang sandarannya dipahatkan sebuah prasasti.

Meski belum terlalu ramai pengunjung, Museum Mpu Purwa tetap mendapat perhatian dari komunitas-komunitas pecinta sejarah. Salah satu di antaranya adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari Universitas Brawijaya yang secara rutin mengunjungi museum ini setiap enam bulan sekali. “Mereka suka sejarah-sejarah gitu. Biasanya enam bulan sekali mereka kunjungan ke sini,” ujar salah satu petugas museum.

Museum Mpu Purwa menjadi bukti nyata bagaimana peninggalan masa lalu bisa dihidupkan kembali dan dikenalkan pada generasi masa kini. Sebuah tempat yang layak dikunjungi, terutama bagi mereka yang ingin mengenal lebih dalam tentang warisan budaya dan sejarah Malang Raya.









