BELAJAR DAN BERMAIN BERSAMA SANTRI EKSTRABILITAS: MENGHAPUS STIGMA, MENGUATKAN AKIDAH

SIARINDOMEDIA – Sekitar 50 santri berkebutuhan khusus meramaikan kompleks Masjid Abu Dzar Al-Ghifari, Lowokwaru, Kota Malang, pada Selasa, 8 Juli 2025. Mereka mengikuti kegiatan ā€œBelajar dan Bermain Bersama Santri Ekstrabilitasā€. Acara ini digelar untuk memberikan pendidikan agama seperti mengaji, akidah, dan adab kepada anak-anak berkebutuhan khusus, yang selama ini belum mendapatkan akses pembelajaran agama secara inklusif.

Tak hanya santri, para wali santri juga mengikuti seminar bertajuk ā€œRekonstruksi Total Paradigma Disabilitas: Sungguh Tak Sekalipun Tuhan Menciptakan Manusia Cacat! From Disability to Ekstrability.ā€ Seminar ini menjelaskan paradigma baru bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak layak disebut ā€˜cacat’, melainkan memiliki kelebihan yang perlu dipahami dan diberdayakan.

Dari disabilitas ke ekstrabilitas

Ketua Yayasan Wisma Disabilitas Nusantara (WDN), Kak Lia, menegaskan bahwa penggunaan istilah ā€œekstrabilitasā€ menggantikan ā€œdisabilitasā€ dimaksudkan untuk mengubah cara pandang masyarakat. ā€œDisabilitas itu kan berarti kekurangan, (atau) ketidakmampuan, (tapi) kita menyebutnya ekstra, mereka memiliki kelebihan, maka kenapa disebutnya ekstrabilitas,ā€ ujarnya.

Pembina Yayasan WDN, Bu Nita, mengungkapkan bahwa kegiatan ini berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai orang tua anak tunawicara. ā€œKarena saya punya anak difabel juga, tunawicara, yang (juga) membutuhkan pendidikan agama, akidah, dan adab. Sementara, kalau di SLB (Sekolah Luar Biasa) atau lembaga lain kan tidak mengkhususkan untuk akidah dan Alquran,ā€ jelasnya. Karena kekhawatiran inilah, ia mendirikan yayasan ini dan memberikan pembelajaran agama kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

BELAJAR DAN BERMAIN BERSAMA SANTRI EKSTRABILITAS: MENGHAPUS STIGMA, MENGUATKAN AKIDAH
Suasana hangat di dalam ruang kelas saat para santri ekstrabilitas belajar bersama para relawan (Adhi Sethiko)

Kegiatan dilaksanakan dari pukul 09.00 hingga 16.00, didampingi oleh para tenaga pendidik dan relawan. Santri belajar di kelas yang tersedia di lingkungan masjid dan berinteraksi sosial melalui berbagai kegiatan bermain. Usai salat Zuhur, mereka mendapatkan waktu istirahat dan makan siang.

Bu Nita berharap kegiatan ini bisa berdampak lebih luas. ā€œHarapannya, anak-anak bisa mandiri, punya akidah yang kuat agar di masyarakat itu tidak mudah untuk dibully. Kedua, dakwah ini bisa meluas di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri,ā€ ujarnya.

Acara ini menjadi pengingat bahwa setiap anak, dengan kelebihan dan kekurangannya, berhak atas pendidikan yang layak dan penuh cinta.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *