TRADISI KUPATAN, WARISAN BUDAYA YANG TETAP LESTARI DI DUSUN PECEMENGAN BANYUWANGI

SIARINDOMEDIA.COM – Masyarakat Dusun Pecemengan, Siliragung, Kabupaten Banyuwangi, menggelar acara tahunan yaitu tradisi Kupatan dengan antusias. Tradisi ini digelar seminggu setelah Hari Raya Idulfitri yang menjadi simbol. Ungkapan syukur serta ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Kupatan berasal dari kata ketupat, makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus janur (daun kelapa muda). Dalam acara ini para warga saling berbagi ketupat, lepet, dan sayur lodeh. Para warga biasanya membagi-bagikan ketupat, lepet, dan sayur lodeh ke tetangga dekat rumah dan saudara-saudara. Ada pula yang mengadakan kenduri dan doa bersama di musala terdekat.

PROSES PEMBUATAN. Proses pembuatan lepet dan ketupat. Foto Aida Nasywa Fahira

Tidak lupa para warga menyisihkan ketupat dan lepet untuk digantung di atas pintu rumah

Tradisi Kupatan

Supadi (60) mengungkapkan bahwa setiap tradisi ini akan digelar, semua warga sibuk mencari janur yang akan digunakan untuk membuat ketupat dan lepet. Dan biasanya para warga membagikan tiga jenis olahan beras yaitu, ketupat, lepet, dan lontong. Lepet terbuat dari beras ketan yang di campur dengan kelapa parut, dan biasanya ditambah dengan kacang tolo.

“Kupatan tradisi turun temurun, dari dulu selalu begini, kalau di daerah Pecemengan ini, ada tiga yang di buat dan di bagikan , yang satu ketupat pada umumnya, yang satunya lagi lepet, dan ada lontong juga” terang Supadi.

“Udah biasa buat jadi kayanya ga ada yang sulit, cuma untuk tunggu matang nya butuh waktu yang lama,” lanjutnya.

Kupatan menjadi bukti nyata bahwa budaya turun temurun masih terus dilestarikan. Kupatan tak hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga simbol identitas budaya. Di tengah gempuran modernisasi, warga Pecemengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur melalui tradisi ini.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Authors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *