TRADISI HALAL BIHALAL, SIMBOL KEBERSAMAAN DAN MOMEN SALING MEMAAFKAN DI BULAN SUCI RAMADAN

SIARINDOMEDIA.COM – Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan, masyarakat Indonesia memiliki tradisi unik yang dikenal dengan Halal Bihalal. Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi dan momen untuk saling memaafkan, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat secara luas.

Halal Bihalal bukan hanya sekadar acara berkumpul, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam menjaga harmoni sosial. Istilah ini diyakini mulai populer sejak era Presiden Soekarno, yang mengadopsinya dari gagasan KH. Wahab Chasbullah. Dalam konteks kebangsaan, Halal Bihalal pertama kali digunakan untuk mendamaikan para tokoh politik yang saat itu tengah menghadapi ketegangan pasca-kemerdekaan. Seiring waktu, tradisi ini berkembang luas dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

Makna Halal Bihalal dalam Islam

Dalam ajaran Islam, silaturahmi dan saling memaafkan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini mempertegas pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Halal Bihalal menjadi wujud nyata dari ajaran tersebut, di mana umat Islam saling bersalaman dan meminta maaf.

HANGATNYA SILATURAHMI. Saling memaafkan di Hari Raya menjadi simbol kebersamaan dan keikhlasan bagi keluarga, teman, dan kerabat. Foto: Pinterest/rawpixel

Tradisi Halal Bihalal di Berbagai Kalangan

Halal Bihalal tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga di berbagai instansi, mulai dari sekolah, kantor pemerintahan, hingga komunitas masyarakat. Biasanya, acara ini diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan ceramah keagamaan, dan diakhiri dengan sesi bersalaman sebagai simbol saling memaafkan.

Di beberapa daerah, tradisi ini juga dikombinasikan dengan adat setempat. Misalnya, di Jawa, kegiatan ini juga sering disertai dengan kenduri atau makan bersama sebagai bentuk kebersamaan.

Momentum ini juga menjadi ajang refleksi diri setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadan. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya mempererat hubungan dengan keluarga dan kerabat, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan toleransi.

Dalam konteks sosial, silaturahmi dan saling memaafkan berperan sebagai jembatan untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang, serta memperkokoh persatuan di tengah keberagaman. Oleh karena itu, tradisi ini diharapkan tetap lestari sebagai warisan budaya yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ikuti Berita & Artikel Siarindo Media di   Google News

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *