SIARINDOMEDIA.COM – Di tengah gempuran makanan modern, kue putu tradisional keliling yang dijual Pak Anton tetap menjadi pilihan favorit banyak orang. Sudah terhitung 25 tahun, dia menjual kue putu sampai sekarang dan masih berkeliling di sekitar area Kota Malang. Biasanya pak Anton menjajaki dagangannya di sekitar Jalan Bandung, Jalan Semarang, hingga ke daerah Kampung Kayu Tangan.
Kue putu tradisional yang dijajakan Pak Anton adalah hasil buatannya sendiri, terbuat dari kelapa dan gula merah sebagai bahan utama. Selama ini Pak Anton tetap mengandalkan kue putu untuk melestarikan jajanan tradisional.
Jajanan ini menjadi favorit di kalangan berbagai usia, terutama mahasiswa dan pelajar. Dengan harga yang terjangkau, hanya Rp2.000, kue putu Pak Anton sudah bisa dinikmati. Rasa kue putu yang ditawarkan juga sangat disukai para penggemarnya.

Berjualan kue putu menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang bisa Pak Anton andalkan saat ini, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Saya sudah 25 tahun jualan putu, ya … lumayan juga buat kebutuhan sehari-hari. Biasanya keliling kampung-kampung,” ungkap Pak Anton.
“Iya. Dari dulu sampai sekarang masih pakai gerobak ini,” imbuhnya.
Kue khas Jawa ini sesuai dengan selera beberapa orang penggemar jajanan tradisional. Beberapa orang juga mengatakan bahwa kue putu Pak Anton sering dicari. Biasanya mereka mencari di tempat-tempat di mana pria paruh baya ini menjajakan dagangannya.
“Kue putu sekarang kan udah jarang dijual. Jadi saya susah kalo lagi pengen,” ujar salah seorang pembeli.
Jam Berjualan
Setiap harinya, Pak Anton memulai kegiatan berjualannya pada jam 1 siang hingga tengah malam. Meski hanya mengandalkan gerobak dorong sebagai alat untuk mengangkut dagangannya, semangatnya untuk menjajakan kue putu tradisional yang telah menjadi ciri khasnya tidak pernah pudar. Hal ini terlihat jelas saat ia melayani pelanggan dengan ramah dan penuh antusiasme.
Kue putu Pak Anton menjadi bukti nyata bahwa makanan tradisional masih memiliki daya tarik yang kuat dan tetap menarik perhatian banyak penggemar, bahkan di tengah arus modernisasi yang membawa berbagai pilihan makanan baru, menunjukkan betapa pentingnya menjaga warisan kuliner dalam kehidupan masyarakat saat ini.















