KEPALA KEMENAG: JANGAN ASAL COMOT UNTUK JADI KHOTIB JUMAT

SIARINDOMEDIA – Beberapa tahun silam, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama sempat melontarkan gagasan untuk menertibkan para khotib, dai atau mubaligh. Artinya mereka dibuatkan standar sehingga kualitas dan materi khutbah dan ceramah tidak sampai menabrak syariat dan aturan negara.

Ini didasarkan banyaknya khotib dan dai yang justru memprovokasi umat, membingungkan dan bahkan menyesatkan. Ujungnya merugikan agama Islam dan negara.

Karena itu untuk men-standarkan imam dan khotib, Lembaga Dakwah NU Kota Malang kerja sama dengan Kemenag Kota Malang menggelar Standarisasi Imam dan Khatib Angkatan I di aula Kemenag, Kamis pagi (14 November 2024).

KOLABORASI KEMENAG & LEMBAGA DAKWAH NU. Para peserta Standarisasi Imam dan Khatib Angkatan I se-Kota Malang. Foto: ABM

Dalam kesempatan itu, Kepala Kemenag Kota Malang KH Ahmad Shampton menceritakan, dirinya sepulang dari mondok di PP Lirboyo Kediri diminta takmir masjid di kampungnya untuk menjadi khotib di masjid kampung.

Saat itu dia minta izin dulu kepada orang tuanya. Tapi betapa kagetnya dia ternyata ibunya tidak memberi izin.

“Kamu belum waktunya khutbah, wong kamu sendiri belum menunjukkan amal sesuai ilmu agama ke masyarakat, ” kenang Gus Shampton.

Dua tahun berselang, kenang Shampton, dirinya tiba-tiba dipanggil abahnya, KH Masduqi Mahfudz. Saat itu abahnya meminta dirinya untuk menggantikan sebagai khotib. Alasan KH Masduqi sedang kurang enak badan.

“Dan ternyata saat saya naik ke mimbar khotib, abah sudah di depan mimbar, ” kenangnya.

Artinya apa? Shampton menjelaskan, menjadi khotib tidak boleh orang sembarangan. Karena tugasnya berdakwah mengajak kebaikan pada umat.

“Jadi jangan asal ada orang yang hidungnya mancung langsung dipercaya jadi khotib padahal dia tidak pernah ngaji, ” tegas alumnus UIN Malang ini.

AGAR TAK MENYESATKAN. Salah seorang pemateri, Dr Halimi Zuhdi, memberikan penjelasan pentingnya ilmu dan wawasan keagamaan bagi para penceramah sebelum naik ke mimbar. Foto: ABM

Shampton menjelaskan, dirinya pernah tahu sendiri ada khotib yang secara fisik seperti orang alim ahli agama, namun sejumlah rukun khutbah tidak dipenuhi.

“Makanya standardisasi khotib ini sangat penting, ” tegas dia. (ABM/Siarindo)

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *