SIARINDOMEDIA.COM – Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin kembali berbicara soal Palestina di dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF). Putin mengapresiasi upaya signifikan Turki dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Jalur Gaza.
“Apa yang terjadi di Gaza saat ini tidak terlihat seperti perang, ini adalah semacam penghancuran total terhadap penduduk sipil,” tuturnya, sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Anadolu pada Jumat (7/6/2024).
Putin dengan tegas menentang segala bentuk terorisme di negara mana pun. Dia melanjutkan, Amerika Serikat (AS) adalah pihak yang harus disalahkan atas apa yang tengah terjadi di Gaza, Palestina. Di mana anak-anak hingga wanita harus meregang nyawa akibat serangan Israel yang masih berlanjut.
“Kami percaya ini adalah akibat dari kebijakan AS. Mereka memonopoli proses perdamaian. Mereka mengesampingkan semua mekanisme yang telah ditetapkan sebelumnya untuk upaya kolektif menyelesaikan masalah yang sangat sulit ini,” sambungnya.
Kembali menyoroti langkah yang diambil Turki, orang nomor satu di Rusia tersebut berharap berbagai kontribusi dan upaya akan memperlihatkan hasil yang nyata. Mempertimbangkan hubungan jangka panjang Rusia dengan Israel, Putin mengaku siap melakukan apapun yang dapat menyelesaikan masalah di Palestina.

Di sisi lain, Erdogan juga meminta negara-negara lain berhenti memasok senjata kepada Israel dan mengakhiri keterlibatan mereka dalam serangan mematikan yang telah terjadi selama berbulan-bulan.
“Negara-negara yang memberikan dukungan amunisi dan senjata terhadap pembantaian Israel sekarang harus menahan diri untuk tidak terlibat kejahatan ini,” ujar Erdogan dalam konferensi pers di Ankara.
Dia juga mendesak seluruh pihak yang bertanggung jawab untuk segera mengambil tindakan cermat agar membantu tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Serangan brutal Israel dimulai sejak 7 Oktober 2023 lalu dan masih terjadi sampai sekarang. Pembantaian tak dihentikan meski ada resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB yang menuntut gencatan senjata.
Tak hanya dari Dewan Keamanan PBB, banyak pemimpin negara lain yang juga menyuarakan agar Israel menghentikan penyerangan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belgia Hadja Lahbib juga angkat bicara terkait serangan udara terhadap sekolah milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
“Serangan udara yang menghancurkan terhadap sekolah UNRWA di Gaza adalah tindakan kekerasan yang mengerikan dan tidak dapat diterima,” kata Lahbib.
Otoritas kesehatan setempat mencatat sekitar 36.600 warga Palestina yang terbunuh, sebagian besar korbannya adalah wanita dan anak-anak. Sementara 83.000 warga lainnya mengalami luka.
Kini sebagian besar wilayah Gaza hancur karena blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.













