SIARINDOMEDIA.COM – Setiap sudut Kota Malang memiliki cerita sejarahnya masing-masing. Tak heran jika Malang menjadi salah satu kota yang memiliki banyak peninggalan sejarah yang berharga.
Salah satu tempat bersejarah di Kota Malang yang wajib dikunjungi adalah Candi Badut. Candi Badut merupakan salah satu bangunan sejarah yang berada di Kota Malang, tepatnya di Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun.
Candi Badut adalah peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan yang bercorak Hindu.
Prabu Gajayana sebagai penguasa Kerajaan Kanjuruhan masa itu, membangun candi untuk menjauhkan dan membunuh penyakit yang menyurutkan kekuatan.
Usia Candi Badut ini diperkirakan 1400 tahun lebih dan baru ditemukan pada tahun 1921. Candi ini dibangun sekitar tahun 760 M dan dianggap sebagai candi tertua di Provinsi Jawa Timur.
Histori ini tercatat dalam Prasasti Dinoyo. Bangunan Candi Badut yang masih kokoh berdiri terbagi menjadi tiga bagian. Bagian-bagian tersebut adalah kaki candi, badan candi, dan kepala candi.
Candi ini menghadap ke arah Barat, bagian depan terdapat tangga naik ke bilik candi. Bagian masuk pintu candi terdapat Kalamakara atau kepala Kala dengan mulut menganga tanpa rahang bawah.
Selain itu, di depan bangunan induk Candi badut terdapat pondasi-pondasi sisa Candi Perwara atau Candi pendamping. Di bagian utara pipi tangga terdapat hiasan burung yang berada di atas bunga teratai. Bagian luar candi juga dihiasi oleh hiasan relung muka kala atau corak muka raksasa yang dihiasi suluran.
Posisi utara Candi terdapat arca yang bernama Arca Durga Mahisasuramardini. Arca ini adalah satu-satunya arca yang masih ada diantara semua arca meskipun kondisinya sedikit rusak.
Arca lain yang sudah tidak ada adalah Arca Mahakala dan Nandiswara di sisi kanan pintu, Arca Ganesha sebelah timur, dan Arca Agastya sebelah selatan. Arca Durga yang masih ada ini adalah arca atau patung batu Dewi Durga, tokoh mitologi Hindu yang terkenal sangat cantik dan pemberani.

Asal nama Candi Badut sendiri berasal dari kata Liswa. Liswa adalah nama kecil dari Raja Gajayana penguasa Kerajaan Kanjuruhan. Nama ini tercatat dalam prasasti Dinoyo dan dalam Bahasa Sansekerta memiliki arti pelawak, anak komedi, penari.
Liswa memiliki makna yang sama dengan kata badut. Badut sendiri memiliki makna seseorang yang memiliki tingkah lucu atau lawak. Hal inilah yang menyebabkan nama bangunan suci umat Hindu ini bernama Candi Badut.












