KELOMPOK HAM DAN ORGANISASI KEMANUSIAAN KECAM VETO AS ATAS RESOLUSI PBB UNTUK GENCATAN SENJATA DI GAZA

PAMAN SAM LAGI-LAGI MENERAPKAN STANDAR GANDA PADA KONFLIK PALESTINA

SIARINDOMEDIA.COM – Kelompok hak asasi manusia, organisasi kemanusiaan, para pemimpin dunia serta pejabat PBB mengecam keras tindakan Amerika Serikat (AS) yang memveto resolusi PBB untuk gencatan senjata demi kemanusiaan di Gaza. Veto tersebut sekali lagi membuktikan bahwa AS selalu menerapkan standar ganda pada segala tingkah laku Israel, khususnya yang terkait konflik di Palestina.

Resolusi PBB untuk gencatan senjata di Gaza gagal disahkan kemarin di Dewan Keamanan PBB setelah AS memveto proposal resolusi tersebut.

Sekutu utama AS, Inggris, sebagai anggota tetap DK PBB memilih abstain. Sedangkan 3 negara anggota Tetap DK PBB lainnya (Perancis, Rusia, dan China) mendukung resolusi bersama 10 anggota tidak tetap DK PBB.

Resolusi gencatan senjata demi kemanusiaan itu diajukan Uni Emirat Arab dan mendapat dukungan penuh 100 negara lainnya.

Gagalnya resolusi gara-gara veto AS ini membuat Israel leluasa terus mengebomi Gaza. Sementara keprihatinan dunia internasional terus meningkat mengingat serangan brutal Israel telah menewaskan lebih dari 17.400 warga Palestina sejak konflik meletus pada 7 Oktober lalu. Di pihak Israel sendiri, perseteruan dengan Hamas telah merenggut 1.100 nyawa.

Agnes Callamard, Sekjen Amnesty International, mengatakan bahwa veto AS “menunjukkan ketidakpedulian terhadap penderitaan warga sipil dalam menghadapi jumlah korban jiwa yang sangat besar.”

“Hal ini tidak dapat dibenarkan secara moral, sebuah pengabaian terhadap tugas AS untuk mencegah kejahatan kekejaman dan kurangnya kepemimpinan global. Mengerikan sekali,” tulis Callamard di X.com.


Di platform media sosial yang sama, Avril Benoit, Direktur Eksekutif Doctors Without Borders (Medecins Sans Frontieres, atau organisasi dokter lintas batas negara), juga bereaksi keras menyikapi veto AS.

“Kami sangat terpukul dengan kegagalan DK PBB mengadopsi resolusi yang menuntut gencatan senjata di Gaza, resolusi yang diblok oleh veto tunggal AS. Dengan memveto resolusi ini, AS berdiri sendiri dalam memberikan suara menentang kemanusiaan,” ungkapnya.


Benoit menambahkan, veto AS tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan yang mereka gembar gemborkan ke seluruh dunia.

“Terus-terusan memberikan perlindungan diplomatik atas kekejaman yang sedang terjadi di Gaza, AS memberi isyarat bahwa hukum humaniter internasional dapat diterapkan secara selektif (pilih-pilih, red). Bahwa nyawa sebagian orang tidak terlalu berarti dibandingkan nyawa orang lain…. Veto AS menjadikannya terlibat dalam pembantaian di Gaza,” kata Benoit.

Sementara itu, Human Rights Watch (HRW) mengingatkan apa yang dilakukan AS itu bisa menyeretnya dalam kejahatan perang.

“Dengan terus memberikan senjata (dan) perlindungan diplomatik kepada Israel ketika mereka melakukan kekejaman, termasuk menghukum secara kolektif penduduk sipil Palestina di Gaza, AS berisiko terlibat dalam kejahatan perang,” demikian pernyataan resmi HRW.

Penduduk Gaza terancam kelaparan
TERANCAM KELAPARAN. Warga Palestina berkumpul menunggu distribusi makanan di Rafah di Gaza selatan. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan warga Gaza terancam kelaparan karena sulitnya penyaluran bantuan kemanusiaan di tengah bombardir serangan Israel. Foto: AP

Sedangkan Inggris, satu-satunya negara yang abstain, melalui Duta Besarnya di PBB mengatakan negaranya memilih sikap tersebut karena resolusi gencatan senjata tidak mengecam Hamas.

Menurut Barbara Woodward, Duta Besar Inggris di PBB, meski harus tetap mematuhi hukum kemanusiaan internasional, Israel berhak membela diri dari ancaman Hamas. Sehingga serangan seperti yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober lalu di wilayah Israel tidak terulang lagi. (TON)

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *