SIARINDOMEDIA.COM – Militer Israel hari Kamis menangkap direktur Rumah Sakit Al-Shifa dengan tuduhan memfasilitasi Hamas untuk menjadikan rumah sakit terbesar di Jalur Gaza itu sebagai pusat komandonya.
Militer Israel menyatakan menahan Muhammad Abu Salmiya untuk diinterogasi menyusul “bukti yang menunjukkan Rumah Sakit Al-Shifa, di bawah manajemen langsungnya, berfungsi sebagai pusat komando dan kendali Hamas”. Hamas diklaim menggunakan kompleks terowongan di Kota Gaza untuk melancarkan serangan
Tuduhan itu, yang berulang kali dibantah pihak rumah sakit, membuat Al-Shifa menjadi salah satu target utama serangan darat Israel di Gaza utara. Akhir pekan lalu, Militer Israel memerintahkan evakuasi dari rumah sakit tersebut. Namun sejumlah staf medis yang bertahan mengatakan tak kurang dari 180 pasien masih berada di dalam.
Selain Salmiya, seorang dokter dan dua perawat juga ditahan.
Penangkapan Salmiya dan rekan-rekannya dikecam keras Hamas. Dalam pernyataannya, Hamas menuntut Komite Palang Merah serta organisasi internasional lainnya untuk berupaya membebaskan mereka segera.
Beberapa hari sebelumnya, dua paramedis Palestina juga ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel.
“Ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada kekebalan di Jalur Gaza, baik bagi pekerja medis, pekerja sipil, bahkan jurnalis (puluhan jurnalis terbunuh akibat serangan Israel). Serangan tersebut menyasar semua lapisan masyarakat Palestina,” kata reporter Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, dari Gaza selatan, Kamis (23/11/2023).
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza meminta penjelasan dari Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, atas kejadian petugas medis yang sedang melakukan perjalanan dalam konvoi WHO bersama pasien, dihentikan dan ditahan pasukan Israel.
“WHO belum memberi kami laporan apa pun untuk menjelaskan situasi tersebut, termasuk jumlah dan nama mereka yang ditahan,” kata Ashraf al-Qudra, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza.
Dia mengatakan pihak kementerian memutuskan untuk menghentikan koordinasi dengan WHO mengenai evakuasi sampai organisasi di bawah naungan PBB itu mengirimkan laporan yang menjelaskan apa yang terjadi. (TON)













