SIARINDOMEDIA.COM – Buah naga (Hylocereus polyrhizus) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang potensial untuk dikembangkan. Banyuwangi telah dikenal menjadi salah satu sentra penghasil buah naga.

Banyak desa di Banyuwangi merupakan penghasil buah naga, salah satunya di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Kecamatan Pesanggaran, dan sekitarnya.
Buah naga merupakan salah satu komoditas unggulan Banyuwangi yang produksinya melimpah hampir mencapai 83.000 ton per tahun. Bahkan, dengan inovasi penggunaan lampu untuk penyinarannya, buah naga petani Banyuwangi mampu berproduksi sepanjang tahun di luar musim atau off season. Saat di luar musim, harganya relatif tinggi dibanding ketika panen raya. Selain memperpanjang masa produksi dengan penyinaran lampu di malam hari.
Petani buah naga terus berinovasi meningkatkan kualitas produksi tanaman nya. Dengan memadukan teknik perawatan dan pemupukan yang berimbang, kini produksi buah naga bisa mencapai bobot 1 kg per buah.

Buah yang awalnya bobot per biji hanya 0,5 kg, sekarang bisa 1 kg bahkan ada yang lebih, dengan cara memaksimalkan pemberian pupuk banyak dibudidayakan adalah jeruk keprok, jeruk siam, jeruk sitrun/lemon, dan jeruk manis.
Jeruk manis merupakan jeruk yang banyak digemari karena rasanya yang sangat manis tanpa asam sedikit pun, sehingga jeruk manis banyak ditanam saat ini. Jeruk manis memiliki berbagai macam sebutan diantaranya Blood Orange, Valencia Late Orange, Washington Navel, jeruk valencia, jeruk manis pacitan, dan jeruk baby java (Siburian, 2008).
Jeruk baby java merupakan sebutan bagi jeruk manis. Dengan adanya produk jeruk, akan merupakan produk pendamping yang ikut melengkapi suplai terhadap berbagai variasi kebutuhan para wisatawan, juga sebagai suplai bahan agroindustri bila produk utama (buah naga) kurang suplai nya.
Daerah Pesanggaran maupun Banyuwangi pada umumnya dulu merupakan daerah penghasil padi yang sangat potensial. Namun dalam perkembangannya pada beberapa tahun terakhir, area tanaman padi banyak yang beralih diganti dengan tanaman buah naga maupun jeruk.

Daerah Pesanggaran di sisi lain, pada beberapa tahun terakhir ini juga merupakan daerah wisata yang potensial, dan terus berkembang. Beberapa destinasi wisata di daerah tersebut antara lain Wisata Pulau Merah, Pantai Panama, Pantai Laguna, Pantai Parang Kurasi, Pantai Pancer, dan juga menjadi jalur yang dilewati wisatawan untuk menuju ke Taman Nasional Alas Purwo, dan tidak jauh dengan Taman Nasional Meru Betiri.
Permasalahan yang Ditemukan pada Daerah Pesanggaran,Purwoharjo dan Sekitarnya adalah:
- Kurangnya wawasan masyarakat mengenai penanganan maupun pengolahan buah naga dari hulu hingga hilir, yang menyebabkan belum berkembangnya agroindustri buah naga, padahal bila dikembangkan dapat menjadi potensi yang besar, baik bagi masyarakat maupun pemerintah setempat.
- Melimpahnya produksi buah naga dan masih sangat minim diversifikasi produk hasil pengolahan bahan baku tersebut.
- Belum adanya cinderamata yang khas dari daerah Pesanggaran untuk mendukung pariwisata kawasan tersebut.

Solusi yang Ditawarkan
Langkah yang perlu dilakukan adalah:
- Melakukan pemberdayaan dan pembelajaran kepada masyarakat dalam melakukan diversifikasi produk olahan buah naga, mulai dari hulu hingga hilir, sehingga dapat meningkatkan harga jual dan dapat meningkatkan umur simpan buah naga tersebut. Diversifikasi produk olahan buah naga yang dimaksud adalah olahan menjadi dodol dengan berbagai varian rasa dan aroma, keripik, permen jelly, sirup buah maupun sari buah.
- Melakukan desain pengemasan yang menarik sehingga hasil diversifikasi produk tersebut dapat menjadi cinderamata khas yang dapat mengembangkan pariwisata kawasan Pesanggaran dan sekitarnya, karena belum adanya hal tersebut.
- Meningkatkan sistem pemasaran secara digital on-line.
Kontribusi mendasar pada khalayak sasaran:
Penanganan yang lebih serius dapat menjadikan daerah Pesanggaran dan sekitarnya bukan hanya sebagai desa penghasil buah naga segar maupun olahan, tapi juga dapat sebagai daerah untuk tujuan utama wisata, yang didukung dengan fasilitas yang semakin lengkap dan memadai, sehingga dapat menarik dan meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini.

Rencana Luaran :
- Terolahnya produk buah naga yang melimpah menjadi produk olahan, yaitu dodol dengan varian berbagai rasa dan aroma, keripik, jelly, permen jelly, sirup, sari buah.
- Meningkatnya jumlah pemasaran produk, serta makin luasnya jaringan pemasaran produk.
- Meningkatnya nilai ekonomi produk, dan meningkatnya pendapatan petani.
- Terbentuknya agroindustri pengolahan buah naga.
- Meningkatnya kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.
* Prof. Dr. Ir. Sumardi H.S., MS.
adalah guru besar dibidang Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian. Pada Program Studi Keteknikan Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian. Pendidikan S1 di Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Pascasarjana S2 dan S3 di Jurusan Keteknikan Pertanian, Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Beberapa penelitian telahdilakukan adalah Penanganan Pasca Panen Durian dengan Control Atmosphere Storage, Pemberdayaan Agroindustri jeruk untuk meningkatkan nilai tambah dan mendukung pariwisata di daerah Petungsewu, Dau, Malang. Rancang bangun dan Uji performansi Evaporator Double Effect termodifikasi untuk evaporasi bahan pangan. Proses pengolahan berbagai macam buah menjadi keripik dengan vacuum frying. Rancang bangun alat digital pendeteksi B-3 pada bahan pangan.
Pernah menjabat sebagai : Ketua Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian; dan Ketua Jurusan Keteknikan pertanian periode th 2000 -2004.














