SIARINDOMEDIA.COM – Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang mempunyai agenda rutin setiap tanggal 16 Agustus, yaitu event Barikan Anak Nusantara (BAN). Tradisi barikan yang sudah digelar sejak tahun 2022 tersebut merupakan sebuah upaya menanamkan nilai-nilai toleransi dan rasa cinta kepada negeri sejak usia dini.
Ahmad Mas Udin, pegagas agenda BAN tersebut menuturkan, bahwa awal mula digelarnya tradisi barikan oleh FKAUB Malang ini agar dapat memupuk rasa cinta anak-anak terhadap bangsa Indonesia.
“Anak-anak itu kan perlu diajari bagaimana mencintai negeri kita. Mungkin di sekolahan ada. Tapi kadang-kadang ketika kita bahagia kita juga perlu mengingat bahwa merah putih itulah milik kita,” tutur Udin kepada reporter Siarindo Media saat dijumpai selepas agenda BAN 2 di Alun-alun Kota Malang, Rabu (16/8/2023).
“Tidak ada perbedaan untuk agama, budaya, etnis, tidak ada. Karena itu kita gabungkan,” imbuhnya.
Sekretaris Bidang Sosial Keagamaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Malang tersebut mengungkapkan, bahwa sebenarnya Kota Malang memiliki predikat kota layak anak. Sehingga Udin mendambakan bahwa titel tersebut tidak sekadar titel, melainkan benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Akhirnya Udin menyarankan kepada keluarga besar FKAUB Malang untuk menggelar Barikan Anak Nusantara tersebut.
“Kota Malang ini kota layak anak. Kemudian biasanya barikan itu, Malang itu, biasanya ya rata-rata orang Muslim yang barikan, kan begitu,” papar Sekretaris bidang Organisasi dan Kepemudaan GP Ansor Kota Malang tersebut.

“Kita ubah, ya bukan diubah. Kita adakan acara yang melibatkan anak-anak sebagai kota layak anak. Kenapa kok di Alun-alun, karena Alun-alun ini pusat kota,” tambahnya.
Selain itu, Udin menjabarkan, adanya beberapa penampilan seperti barogsai, merupakan wujud internalisasi nilai-nilai toleransi dan ragam budaya yang dimiliki Indonesia kepada anak-anak yang hadir dalam agenda BAN tersebut.
Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia (LPBI) PCNU Kota Malang tersebut menegaskan bahwa tujuan dilibatkannya anak-anak dalam agenda barikan ini agar dapat menanamkan karakter cinta tanah air sejak dini.
“Tujuan utamanya sebenarnya bagaimana mereka (anak-anak) tidak siap (tampil) tetapi (ketika) menyanyikan Indonesia Raya mereka khidmat,” kata Udin.
“Awal mengadakan (BAN) itu mereka tidak siap. Ada barongsai tampil terus jam 4 tet langsung menyanyikan Indonesia Raya langsung berdiri. Itu yang kita cari,” tambahnya.
“Tidak peduli mereka pakai pakaian apa. Kita bicaranya Indonesia. Bibit-bibit Indonesia ya dari sini (BAN). Ini awalnya pikiran saya seperti itu,” sambungnya.

Senada dengan Udin, Sekretaris Jendral (Sekjen) FKAUB Malang, Pdt. David Tobing, ST.S.Th, M.Pd. menuturkan, adanya tradisi barikan tersebut digunakan untuk mendoakan keselamatan bangsa saat menjelang tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Namun tradisi ini, imbuh David, identik dengan kalangan dewasa lebih khusus para tokoh agama.
“Selama bertahun-tahun barikan diadakan hanya fokusnya adalah kepada tokoh agama, tokoh masyarakat atau orang-orang tua. Tidak dan jarang sekali dilibatkan anak-anak untuk berperan dalam acara barikan ini,” papar Pdt. David.
“Oleh sebab itu sejak tahun lalu (16 Agustus 2022), FKAUB (Malang) mencoba untuk membuat sebuah pola dan terobosan baru yaitu barikan ini adalah milik semua lapisan Masyarakat termasuk anak-anak, remaja maupun generasi muda,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Sekjen FKAUB Malang tersebut berharap, melalui rutinan BAN ini semakin banyak pemuda lintas agama dan kepercayaan yang berdoa untuk keselamatan Indonesia dan juga mereka memiliki semangat untuk memberi kontribusi positif kepada Indonesia.
Sama halnya dengan Pdt. David, Udin berharap dengan tujuan mulia digagasnya agenda barikan ini, para pemuda yang hadir dan kelak memegang kendali di lingkungan sosial dapat menerima perbedaan yang dimiliki negara Indonesia.
“Mereka (anak-anak) mungkin berbeda keyakinan, berbeda etnis, tetapi berbicara merah putih mereka adalah satu. Kita adalah satu. Tidak ada perbedaan,” ucap Udin.
“Harapan kita ke depan, (BAN) ini bisa dilanjutkan bahwa negara ini milik mereka (anak-anak) yang akan memegang kendali. Tanamakan kecintaan mereka kepada merah putih sejak dini,” pungkas pengagas agenda Barikan Anak Nusantara tersebut.













