THE PUNAKAWAN SERIES (PART 3)

PANCAKARA (PART 1)

SIARINDOMEDIA. COM – Malam ini dusun Klampis Ireng nampak sepi. Waktu pada jam dinding kuno di rumah Kyai Semar menunjukkan pukul 00.04.

“Ah iki malem Jemuah Wage,” ucap Kyai Semar memecah keheningan malam.

Istri Kyai Semar Dewi Kyanestren sudah tertidur pulas di ranjang berukir kayu jati kuno.

Dengan sigap Kyai Semar mengambil selimut dan diselimutkan pada tubuh istrinya yang tidur dengan posisi miring ke kanan menghadap ke utara. Walaupun mereka sudah berusia tak muda lagi, namun keharmonisan dan keromantisan tetap menyelimuti mereka berdua.

Kyai Semar mengencangkan sarungnya, bermaksud hendak tidur di kursi ruang tamunya sambil menunggu waktu tahajud tiba.

Tok tok tok tok tok’

Link Banner

“Ma ma ma, bangun keadaan genting ma,” teriak suara dari luar pintu.

Seketika Kyai Semar terkaget dan mendekati sumber suara lalu membuka pintu.

“Apa apa, ana apa? (Apa apa, ada apa?),” ucap Kyai Semar sambil melihat ke arah depan, yang ternyata anak nomor duanya yang bernama Petruk Kanthong Bolong sudah berdiri dengan nafas terengah-engah sambil bercucuran keringat.

Kagyat Risang Kapirangu

Rinangkul kinempit – kempit

Duh Sang Retnaning Bawana

Ooo…

Ya ki tukang walang ati

Ya ki tukang kudu gering

Ya ki tukang ngenesing tyas

Ooo…

Petruk lapor Semar
TERGESA-GESA. Petruk melapor pada Ki Lurah Semar atas kejadian yang terjadi di tapel wates. Ilustrator: Angie Nabilah Fidela/Picture: Bayu Kusumaleksana

Begitulah kita-kira suluk odo-odo yang biasa digunakan Ki Dalang saat terjadi situasi yang membuat beberapa tokoh wayang kaget.

“Ndara Antareja Ma, lagi padu karo Kurawa (Tuan Raden Antareja Pak, lagi berkelahi dengan para Kurawa),” ucap Petruk sambil terengah-engah.

Kyai Semar yang tanggap  akan hal itu segera mengambil baju luriknya, lalu bergegas pergi bersama Petruk menuju ke ‘Tapel Wates’ Negara Amarta.

Terlihat di Tapel Wates Negara Amarta Antareja, Werkudara, Arjuna, dan Gathutkaca, dan Antasena sedang berkelahi hebat dengan para Kurawa. Mereka berkelahi ada yang menggunakan senjata jenis tumbak, pedang, dan ada juga yang menggunakan tangan kosong.

Seketika Kyai Semar menarik tangan dari Raden Antasena, yang hendak berlari mengejar pamannya Raden Surtayu. Raden Surtayu sendiri berada di pihak Kurawa.

Dengan kondisi tubuh babak belur, Raden Surtayu berlari menjauh dari keponakannya itu.

“Eh eh Lae Lae mbegegeg ugeg ugeg sadulita hemel-hemel, Niki wonten Napa ta den?. Kok tengah wengi sami padha padu? (Kata Khas Kyai Semar, Ini ada apa ta raden? Kok tengah malam semua pada berkelahi?),” tanya Kyai Semar.

Raden Antasena pun menjelaskan jika para Kurawalah yang memulai permasalahan terlebih dahulu, dengan melempari batu di rumah kakaknya Raden Antareja, dan mereka hendak menangkap Raden Antareja.

(To Be Continued)

Ikuti selengkapnya kisah The Punakawan Series di Rubrik Sosial Budaya:

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *