Najma Auliya’ Penulisan Kreatif

Malam itu, Hazel adalah orang paling bosan di seluruh penjuru kerajaan. Padahal, hari itu adalah acara pelantikannya sebagai penerus sah keluarga kerajaan dengan posisi sebagai putri mahkota. Gaun indah berwarna biru langit dengan bawahan berwarna navy melekat indah di tubuh cantiknya. Rambut cantiknya disanggul dengan menyisakan beberapa helai di bagiandepan. Menambah kadar kecantikannya.

Gadis itu tidak menyukai hal-hal berbau politik dan kerajaan, baginya itu adalah hal yang rumit dan membosankan. Hazel meregangkan otot lengan dan lehernya setelah berhasil mengelabui penjaga yang menjaga kerajaan bagian belakang. Langkahnya terus berjalan menuju taman belakang kerajaan. Suara heelsnya terdengar jelas karena tidak ada seorang pun di lorong taman belakang itu.

Setelah sampai, ia melepas hells yang melekat di kakinya kemudian berlari-lari kecil menuju hamparan rumput yang luas. Bulan dan beberapa bintang yang berada di langit malam itu benar benar bersinar dengan terang. Hazel mendudukkan dirinya diatas hamparan rumput sembari melihat hamparan danau luas yang berada di hadapannya.

Hazel selalu menikmati kesunyian pada malam hari, itu adalah hal yang disukainya akhir akhir ini. Tiba-tiba saja lonceng kerajaan berbunyi sebanyak 3 kali, pertanda dansa akan segera dimulai. Gadis itu terkekeh kecil, ia bisa membayangkan betapa khawatir ayah dan ibunya jika mengetahui ia tidak ada di aula utama.Ia sempat melihat pantulan bulan di atas permukaan danau sebelum menutup matanya secara perlahan.

“Angin malam akan membuatmu sakit,Tuan Putri”

Hazel tersentak kaget sambil melihat ke arah seseorang yang mengajaknya berbicara. Alisnya sedikit berkerut.

“Siapa kau? mengapa kau bisa berada di sini?”

“Jevan, Tuan Putri” Hazel tidak menjawab.

Ia kembali menutup matanya,angin malam yang berhembus pelan menerpa helaian rambut bagian depannya. membuat siapapun yang melihatnya tidak akan berkedip barang satu detik.

“Jelaskan bagaimana kau bisa mengikutiku sampai kemari, Tuan Jevan” Ujar Hazel sedikit tegas.

Yang ditanya malah menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Hal itu membuat alis Hazel kembali berkerut.

“Apa yang sedang kau cari?”

“Disini tidak ada pengawal bukan?” Tanya Jevan balik, membuat Hazel membuang napasnya ke sembarang arah.

“Tidak ada siapapun disini kecuali aku dan kau,Tuan Jevan” Jawab Hazel dengan menekankan kata ‘Tuan Jevan’ “Ada”

“Hah!?Siapa!? kita harus segera pergi,Jev” Hazel panik sendiri akibat perkataan Jevan.

Lantas ia beranjak berdiri,tetapi pergelangan tangannya sudah dicekal oleh Jevan dan ditarikuntuk duduk kembali.

“Tidak ada siapapun kecuali kau dan aku,Tuan Putri”

“Lantas apa maksud perkataanmu?”

“Perasaan saya” Jawabnya enteng. Hazel membulatkan matanya sempurna.

Laki-laki di depannya saat ini benar benar frontal. Degup jantungnya tiba-tiba menjadi lebih cepat. Mata mereka bertemu.

“Jangan bercanda disaat seperti ini, Jev”

Hazel mengatakan hal itu karena merasa tak asing dengan Jevan. Jevan mengedikkan bahunya acuh,terserah Hazel saja. Yang penting ia sudah menyampaikan isi hatinya.

“Terserah kau saja”

Laki laki itu kemudian berdiri,mensejajarkan langkahnya dengan langkah Hazel yang sudah terlebih dahulu berjalan,hendak mengelilingi danau.

Hazel tertawa “Kita baru saja bertemu hari ini,Jev. Bagaimana aku bisa percaya dengan perkataanmu?”

“Kata siapa?” Sela Jevan,membuat Hazel dengan spontan menoleh.

“Eh,Benar bukan?” Jevan menggeleng.

“Mungkin kau baru pertama kali ini bertemu denganku dalam keadaan sadar” Lagi dan lagi Hazel mengerutkan keningnya, Laki-laki ini aneh sekali.

“Maksudmu Jev?bisa jelaskan?” Jevan menyeringai.

“Kau tidak mau melihat wajahku lebih dekat Acel? kurasa kau mengenali panggilan ini ”

Langkah Hazel terhenti. ia terdiam sebentar sebelum menutup mulutnya menggunakan kedua tangan,kemudian menggeleng pelan.Sebenarnya Jevan ini siapa?

“Tidak, itu tidak mungkin. itu bukan Jevan yang sama denganmu, kau hanya berada di alam bawah sadarku”

“Mimpi bisa menjadi kenyataan,Hazella”

“Aku ” Daripada kau terus terusan tidak percaya dengan semua ini,lebih baik kita mewujudkan mimpi kita”

Laki-laki itu berdehem sebentar, kemudian membungkukkan sedikit badannya dihadapan Hazel,disusul dengan mengulurkan tangan.

“Maukah kau berdansa dengan saya, Tuan Putri?” Hazel tersenyum manis,tidak.

Ia tersenyum sangat manis, mengangguk, lantas menerima uluran tangan dari Jevan. Alunan musik dansa dari aula kerajaan terdengar sampai tempat mereka berdansa saat ini. Malam itu, semangat Hazel telah kembali, laki-laki yang dicintainya. Yang selama ini ia kira hanya berada di alam bawah sadarnya kini berada dihadapannya. Dansa mereka berdua semakin cepat, Hazel memejamkan matanya,menikmati. Tidak ada gerakan maju mundur lagi. Yang ada hanyalah gerakan memutar dan melompat. Seiring tempo lagu yang semakin cepat. Bulan purnama yang bersinar sangat terang itu memiliki arti tersendiri untuk seorang Hazel.

Satu hal yang paling ia nanti saat tidur adalah bertemu Jevan. Tempat-tempat yang sering mereka lewati di alam mimpi terlintas tanpa permisi di fikiran Hazel. Lembah dandelion, Tepi danau sunyi dan jalanan indah menuju tempat rahasia mereka. Semua berputar di otak Hazel. Hazel sangat bahagia. Sampai sebelum ia mendengar sebuah tangisan pilu seorang wanita tua. Ia memberhentikan dansanya.

“Tolong, tolong berhenti, Tuan Putri” isak tangis pelayan itu semakin terdengar.

Pelayan itu tersungkur di tanah sambil menangis tersedu-sedu. Hazel menghampirinya.

“Hei,mengapa kau menangis?” Tanya Hazel lembut.

“Tolong berhenti,Tuan Putri”

Pelayan itu masih terus terisak. Bagaimana ia tidak merasa sedih melihat kondisi tuannya dalam kondisi seperti itu. Hazel tidak pernah berhenti berdansa di tengah malam selama 2 tahun ini.

“Kau kenapa? aku sedang berdansa bersama Jevan ”

Pelayan itu semakin deras menangis hingga bahunya terguncang hebat.

“Sadar Putri, Tuan Jevan sudah tidak ada, ia sudah di eksekusi mati 2 tahun yang lalu, tolong berhenti ”

Pandangan Hazel mangosong, sebenarnya ia sadar, hatinya menolak itu semua. Semua hal yang diceritakan diatas hanyalah imajinasi Hazel belaka. Seharusnya Hazel tersadar dari imajinasinya yang terlalu berlebihan. Sekuat apapun ia berusaha menarik Jevan untuk kembali, ia tidak akan bisa. Jevantidak akan bisa bersama dengannya. Laki-laki itu tidak akan kembali. Karena bagaimanapun juga, Jevan hanyalah seorang ketua kumpulan pemberontak kerajaan, pantas dieksekusi mati secara hukum.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *