ANGKOT STASIUN KOTA BARU MALANG, TETAP BERTAHAN DI TENGAH GEMPURAN TRANSPORTASI MODERN

SIARINDOMEDIA.COM – Di tengah maraknya layanan transportasi online dan perkembangan transportasi modern, angkutan kota (angkot) di Stasiun Kota Baru Malang tetap bertahan dan menjadi pilihan utama bagi sebagian warga maupun penumpang kereta api.

Keberadaan angkot di sekitar stasiun ini menunjukkan bahwa transportasi tradisional tersebut masih memiliki tempat di masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung antarwilayah, angkot juga menjadi bagian dari identitas transportasi khas Kota Malang.

Setiap hari, puluhan angkot dari berbagai jurusan seperti Arjosari, Gadang, Landungsari, hingga Dinoyo tampak hilir mudik menjemput dan menurunkan penumpang di area stasiun.

Hariyadi, salah satu sopir angkot yang telah berpengalaman sejak tahun 1979, awalnya menjadi sopir bemo, sebelum beralih ke angkot. Dia membagikan ceritanya mengenai perubahan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir.

“Dulu kalau pangkalan ya pindah-pindah, ada pangkalan yang di Mergan, terus di Dinoyo, pasar itu, terus ada lagi yang di Comboran. Terus terminal baru, dulu terminal Patimura terakhir, udah nggak ada Bemo,” jelas Hariyadi.

SALAH SATU PANGKALAN. Terlihat beberapa Angkot sedang parkir di depan Stasiun Kota Baru Malang. Foto: Leonnicha Putri Maharani

Tantangan di Setiap Zaman

Seiring berjalannya waktu, tantangan juga semakin terasa, terutama dengan adanya pergeseran minat penumpang ke transportasi online. Pendapatan sopir angkot pun tidak selalu menentu.

“Kalau sekarang ndak bisa nunggu penuh, ndak mungkin penuh. Dapet dua kadang kalau di apa itu, gimana kalau sepuluh ribuan buat ganti bensin aja, kalau nggak mau ya nggak berangkat angkotnya,” keluhnya.

Kondisi bahan bakar juga menjadi tantangan tersendiri bagi para sopir. Biaya operasional kerap kali tidak sebanding dengan pendapatan harian.

“Bensinnya aja kalau dari stasiun ke terminal Landungsari itu dua liter setengah,” ujarnya.

Hariyadi menambahkan bahwa mayoritas penumpang angkot saat ini berasal dari kalangan pelajar, wisatawan, dan warga lokal. Meskipun demikian, tidak setiap hari angkot dipenuhi penumpang.

“Yang rame itu biasanya anak sekolah yang dari luar kota itu masuk ke Malang mau ke Alun-alun, ke Museum Brawijaya itu baru rame penumpang angkot,” tuturnya.

Meski terus menghadapi tantangan dari perkembangan teknologi, keberadaan angkot di Stasiun Kota Baru Malang tetap menjadi simbol transportasi yang merakyat.

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *