PEKIKAN SASTRA 2025, SOROTI ISU KESEIMBANGAN DALAM KESATARAAN GENDER LEWAT FILM DAN SEMINAR

SIARINDOMEDIA.COM – Dewan Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang menggelar agenda bertajuk PEKIKAN SASTRA 2025, dengan mengangkat tema ‘Keseimbangan dalam Kesetaraan Gender’ pada Minggu, (11/5).

Acara ini dikemas dalam bentuk nonton bareng (nobar) film, seminar, dan workshop yang bertempat di Gedung D14 AVA Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB ini dibuka dengan sambutan-sambutan dari beberapa pihak, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film Baby Blues (2022) yang menggambarkan dinamika rumah tangga dan beban emosional yang dihadapi perempuan pasca melahirkan.

PEMAPARAN MATERI. Prof. Dr. Hj. Yuni Pratiwi memaparkan materi tentang Kesetaraan Gender. Foto: Idha Ambarsari

Penyampaian Seminar Tentang Keseimbangan dan Kesetaraan Gender

Film ini menjadi pemantik diskusi dalam seminar yang menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd. Dalam sesi seminar bertajuk ‘Merangkul Kesetaraan dalam Menjembatani Perbedaan Gender: Mencari Titik Temu, Bukan Titik Pijar’, Prof. Yuni menekankan pentingnya mewujudkan kesetaraan tanpa mengabaikan nilai kodrat dan norma masyarakat.

”Junjung tinggi martabat kemanusiaan, keadilan, dan wujudkan kesetaraan sosial budaya tanpa menyalahi kodrat, baik secara agama maupun norma masyarakat. Beban perempuan itu berat secara ekonomi, sosial, pengelolaan waktu, bahkan dalam ibadah,” jelas Prof. Yuni.

Menurutnya, ketimpangan gender sering kali menambah beban yang harus ditanggung perempuan, terutama dalam ranah domestik. Dia menggambarkan bagaimana perempuan kerap menghadapi beban ganda yang berat secara ekonomi, sosial, pengelolaan waktu, hingga aspek keagamaan.

”Bagaimana masih mau mengasuh anak, memasak, memikirkan makanan suami, dan lainnya? Itu pada keluarga-keluarga yang tidak memiliki kesetaraan gender akan sangat berat,” tegasnya.

Prof. Yuni juga menegaskan untuk mencari titik temu dalam membangun relasi yang adil. Menurutnya, konflik berkepanjangan akan muncul apabila masing-masing pihak bersikeras mempertahankan pandangannya tanpa melihat dari sudut nilai-nilai kemanusiaan.

”Nah, di sinilah kita perlu mencari titik temu, bukan berakhir di ring tinju. Kalau tidak ada empati dan keadilan sosial, maka pertengkaran akan terus terjadi tanpa ujung,” imbuhnya.

Selain seminar dan pemutaran film, PEKIKAN SASTRA 2025 juga menyelenggarakan Workshop Macrame Chain yang dipandu oleh UKM Sanggar Minat, dengan narasumber Birriyatul Isnaeni. Kegiatan ini menjadi wadah kreatif dan relaksasi bagi peserta.

Acara ini diharapkan menjadi ruang reflektif dan edukatif dalam membangun kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dalam tatanan sosial dan budaya Indonesia.

Ikuti Berita & Artikel Siarindo Media di Google News 

Authors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *