SIARINDOMEDIA.COM – Saham maskapai penerbangan berbiaya rendah di Korea Selatan, Jeju Air mencapai titik terendah setelah kecelakaan udara paling mematikan di negara tersebut yang menewaskan 179 penumpang.
Saham Jeju Air diperdagangkan turun hingga 8,5 persen pada pukul 03.12 GMT kemarin, setelah anjlok hingga 15,7 persen di awal sesi menjadi 6.920 won, menjadi level terendah sejak saham tersebut tercatat pada tahun 2015 lalu.
Penurunan drastis saham tersebut terjadi sejak hari Senin yang menghapus kapitalisasi pasar hingga mencapai 95,7 miliar won atau sekitar 65,2 juta dolar.
Saham AK Holdings, perusahaan induk Jeju Air mengalami penurunan sekitar 12 persen dan mencapai titik terendah dalam 16 tahun.
Adapun beberapa maskapai berbiaya rendah lainnya, seperti Air Busan naik lebih dari 15 persen, Jin Air dan T’way Air mengalami penurunan setelah naik masing-masing sebesar 5,4 persen dan 7,3 persen.
Dua maskapai penerbangan utama Korea Selatan, Korean Air Lines turun 1,3 persen dan Asiana Airlines turun 0,8 persen.
Saham agen perjalanan juga melemah, dengan Hanatour Service yang mengalami penurunan sekitar 7 persen dan lainnya.
“Diperlukan waktu untuk menilai penyebab kecelakaan. Tetapi akan berpengaruh terhadap sentimen konsumen. Karena kredibilitas penting bagi maskapai berbiaya rendah yang kursi dan layanannya tidak jauh berbeda satu sama lain,” kata Yang Seung-yoon, seorang analis di Eugene Investment Securities.
“Dalam hal permintaan perjalanan secara keseluruhan, mungkin ada beberapa pembatalan dalam jangka pendek, tetapi hal ini tidak mungkin melemah secara struktural,” lanjutnya.
Kecelakaan yang terjadi pada hari Minggu lalu di Bandara Internasional Muan ini disebut sebagai penerbangan dengan kecelakaan fatal pertama yang dialami maskapai penerbangan berbiaya rendah tersebut.
Menurut pejabat setempat, Rata-rata korban tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut disinyalir adalah orang-orang yang baru saja kembali dari liburan pada musim liburan.













