CINTA PRODUK DALAM NEGERI IMPLEMENTASI CINTA NEGARA (SERI 12)

EDISI SENIN, 22 JULI 2024

Tulisan Dr . Imam Muhajirin Elfahmi SH, S.Pd, MM (Coach Fahmi)

Jaringan Indonesia Berdaya_

Penerima Anugerah Insan Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 2024

SIARINDOMEDIA.COM – Pada akhir Juni lalu, kabar mengejutkan datang dari industri tekstil terbesar di Asia Tenggara, PT Sri Rejeki Isman Tbk. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri yang dikenal dengan nama Sritex itu sedang ‘sakit’.

Belum terjawab secara eksplisit mengapa bisnis produsen kain yang sudah merajai pasar global ini bisa goyah. Apakah karena faktor internal atau eksternal.

Namun sinyal kuat menyebut, faktor eksternal yang jadi penyebab utama. Antara lain lemahnya nilai rupiah terhadap dolar. Termasuk mudah masuknya barang-barang luar negeri dengan harga yang jauh di bawah. Bahkan bebasnya perdagangan thrifting (baju bekas impor) juga memukul industri tekstil tersebut.

Kondisi yang sama sebenarnya juga terjadi di industri lain. Lantas apakah kita sebagai warga negara Indonesia akan diam saja? Padahal, jika industri dalam negeri kolaps, ada ratusan, bahkan ribuan karyawan yang juga sebangsa akan kesulitan ekonominya.

Pendapatan negara pun menyusut. Tentu saja tidak. Kita tidak boleh hanya diam. Harus melakukan sikap jelas demi menyelamatkan negara ini. Caranya bagaimana? Sejak awal kita semua harus ditanamkan untuk mencintai produk dalam negeri.

Sebagai warga negara yang baik, mencintai produk negeri sendiri adalah hal yang bijak. Senyampang dalam negeri masih bisa menghasilkan produk yang bagus, mengapa harus memilih milik orang lain. Apakah hanya demi gengsi? Kalau hanya itu (gengsi) yang dikedepankan, di mana rasa cinta kita pada negara ini.

Saya kira, di negeri ini sangat banyak produk yang tidak kalah kualitas dengan produk luar negeri. Ada banyak usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menghasilkan karya sangat bagus. Tinggal bagaimana semua pihak mendorong agar bisa berkembang. Mulai kualitas produk, kemudahan perizinan, hingga penguatan pasar di luar negeri.

Peran pemerintah daerah begitu signifikan mendongrak UMKM berkembang. Karena UMKM ini tercatat telah menyumbang pendapatan negara sangat besar.

Data dari Kementerian Perdagangan dan UKM menyebut kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional (PDB) sebesar 61,1%. Sisanya yaitu 38,9% disumbangkan oleh pelaku usaha besar yang jumlahnya hanya sebesar 5.550 atau 0,01% dari jumlah pelaku usaha.

Jika UMKM yang berkembang, setidaknya bisa menekan angka pengangguran yang sejauh ini masih cukup besar. Lihat rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) periode Agustus 2023, persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja mencapai 5,32 %.

Pada Februari 2024, BPS kembali merilis tingkat pengangguran sebesar 4,8%. Ada sedikit penurunan dari 2023. Dengan jumlah ini, International Monetary Fund (IMF) menempatkan Indonesia dengan jumlah pengangguran terbanyak se-ASEAN.

Saya kira kita semua harus optimistis untuk bangkit. Potensi negeri ini terlalu besar untuk dikembangkan. Tentunya semua pihak, pemerintah, pengusaha, akademisi, masyarakat punya komitmen bersama membangun negeri dengan cara mencintai produk dari negeri sendiri. Ini demi tercapainya cita-cita luhur Pancasila sesuai pada sila ke-5: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ayo Terus Gemilangkan Indonesia. (CF)

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *