Tulisan Dr. Imam Muhajirin Elfahmi SH, S.Pd, MM, (Coach Fahmi)
Jaringan Indonesia Berdaya_
Penerima Anugerah Insan Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 2024
SIARINDOMEDIA.COM – Pada tahun 2001, Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) memilih pemain kontroversial sebagai peraih gelar terhormat: Fair Play Award FIFA. Ini bukan gelar sembarangan. Karena seleksinya sangat ketat. Pemain yang mendapatkan gelar ini harus benar-benar menghormati nilai sportivitas, menjunjung kejujuran tinggi. Dan yang membuat kontroversial itu karena yang menerima adalah Paulo di Canio.
Ya, pemain klub Inggris West Ham United tersebut kala itu dikenal sebagai pemain bengal, pemarah dan kerap membuat ulah di lapangan. Bahkan sebelum mendapatkan gelar Fair Play Award FIFA tersebut, dia baru saja terkena hukuman tidak boleh tanding selama delapan laga. Gara-garanya dia mendorong wasit Paul Alcock hingga terjungkal karena dia tidak terima mendapat kartu merah. Sebelumnya dia juga kena denda uang gara-gara melakukan gerakan menghina lawan saat melawan Aston Vila.
Lantas apa sih yang membuat pemain bengal itu diganjar dengan Fair Play Award FIFA? Saat itu, Ketika West Ham United melawan Everton, dia bertindak sportif. Dia yang punya kesempatan besar memasukkan gol ke gawang Everton, memilih menangkap bola dengan tangan hasil umpan silang Trevor Sinclair karena kiper Everton, Paul Gerrard sedang cedera di kotak penalti. Saat itu sudah menit akhir dengan kedudukan 1-1. Andai Paulo Di Canio tidak sportif, West Ham bisa menang 2-1. Padahal wasit sendiri saat itu juga tidak tahu kalau kiper lawan sedang cedera.
Atas sikap sportif Paulo Di Canio itulah, FIFA memberikan apresiasi begitu tinggi.
Dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari, sikap fair play itu sebenarnya bersikap jujur, menghargai orang lain dan disiplin pada aturan. Itulah salah satu yang perlu terus ditanamkan kepada generasi penerus.
Sikap jujur sejak dini menjadi salah satu kunci agar ke depan negeri bisa terbebas dari korupsi. Pada artikel sebelumnya, saya paparkan bagaimana mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair memuji kemajuan Singapura karena berhasil menekan angka korupsi.
Sementara di Indonesia, indeks persepsi korupsi berdasar Transaprency Internasional masih cukup tinggi. Indonesia di peringkat 115 dari 180 negara yang disurvei. Tentu ini angka yang belum menggembirakan.
Awal dari masih adanya budaya korupsi adalah minim integritas, minim kejujuran di semua sektor.
Karena itu melalui program Jaringan Indonesia Berdaya, anak-anak tidak cukup dibekali skill bagaimana memimpin dan sukses berbisnis, tapi belajar sikap jujur menjadi prioritas. Tujuannya semata agar keberhasilan yang didapatkan menjadi nilai baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dari situ, negeri ini semakin jauh dari budaya korupsi.
Ayo Terus Gemilangkan Indonesia dengan bersikap fair play dalam segala bidang. (CF)












