Tulisan Dr. Imam Muhajirin Elfahmi SH , S.Pd , MM (Coach Fahmi)
Jaringan Indonesia Berdaya
Penerima Anugerah Insan Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 2024.
SIARINDOMEDIA.COM – Dalam sebuah wawancara, mantan Perdana Menteri Inggris Sir Anthony Charles Lynton Blair begitu menyanjung setinggi langit kemajuan Singapura. Dia rupanya kesengsem dengan pesatnya kemajuan negara yang baru merdeka pada 9 Agustus 1965 tersebut.
Untuk sebuah negara sekecil Singapura, punya pendapatan perkapitanya sampai menembus 84,714.000 USD (data 2023), bagi mantan perdana menteri yang dikenal dengan Tony Blair ini sungguh hebat. Padahal angka ini sudah turun dibanding tahun 2022 yang menembus angka 88,414.00 USD. Bandingkan dengan Indonesia pada tahun 2024, pendapatan perkapitanya baru 5,271 USD.
Lantas apa yang menjadikan perkembangan ekonomi negeri bekas jajahan Inggris itu begitu melesat? Apakah sumber daya alamnya?
Ternyata bukan. Karena di negara berjuluk Negeri Singa itu nyaris tidak punya sumber daya alam. Luas negaranya pun juga kecil: 734,3 km persegi. Penduduknya hanya 5,467 juta jiwa. Tidak lebih dari jumlah penduduk di lima kabupaten se-Jawa Timur.
Kemajuan Singapura tidak bisa lepas dari “tangan emas” Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Tew. Di tangannya lah sejak dia memimpin dari tahun 1959 hingga 1990, Singapura berubah dari negara baru yang miskin menjadi negara maju.

Tony Blair melihat, ada tiga keputusan penting dari kebijakan Lee Kuan Yew yang menjadikan negeri bekas jajahan Inggris itu maju sangat pesat.
Pertama, semua orang diharuskan bisa berbicara bahasa Inggris di Singapura. Penolakan dari warga Singapura atas kebijakan ini sangat kuat. Karena warga Singapura saat itu ingin masih lepas dari cengkeraman Inggris. Banyak warga Singapura ingin memiliki bahasa lokal kita sendiri. Mereka setia pada asal usulnya (local pride). Namun Mr. Lee bersikukuh jika bahasa Inggris adalah bahasa dunia yang bisa mengantarkan ke gerbang kemajuan.
Kedua, Mr Lee memberi ruang terbuka kepada para intelektual di seluruh dunia untuk masuk ke Singapura. Tujuannya untuk membantu memajukan negeri. Bahkan orang-orang ahli dari Inggris pun didatangkan. Padahal saat itu warga Singapura masih bersitegang dengan Inggris.
Ketiga, yang jadi komitmen Mr Lee adalah tidak adanya korupsi di Singapura. Salah satu cara yang dilakukan adalah memastikan para pemimpin politik, pejabat pemerintah telah dibayar dengan baik. Tak heran jika saat ini pun para pemimpin Singapura mempunyai gaji (bayaran) terbaik di dunia. Sehingga tidak ada lagi toleransi terhadap korupsi.
Itulah tiga keputusan yang berperan penting dalam membangun Singapura saat ini. Sehingga setelah sekitar 30 tahun setelah kebijakan itu, Singapura terus tumbuh menjadi negara yang jadi perhitungan dunia. Lantas apa yang bisa dipelajari dari Singapura ini untuk Indonesia?
Tentu tidak ada salahnya kebijakan yang baik dari negeri sebelah itu diadopsi. Bukankah salah satu yang membuat banyak investor enggan di Indonesia karena faktor korupsi yang masih subur.
Elon Musk misalnya, dikabarkan tidak jadi menanamkan investasinya karena iklim investasi negeri ini belum baik. Maka, penanaman karakter jiwa kemandirian dan mental antikorupsi perlu dilakukan sejak dini.
Salah satu program yang saya lakukan lewat Grounded Special Program for Young People (GSP YP) misalnya, adalah dalam upaya membentuk generasi muda dengan mental mandiri. Mereka dicetak untuk bisa berdaya berdisiplin tinggi tanpa banyak bergantung pada yang lain. Termasuk tentu penguatan skill berkomunikasi yang baik demi memudahkan menjalin sebanyak-banyaknya relasi.
Karena ketidakberdayaan seseorang (terutama sisi kejiwaan dan ekonomi) itu yang terkadang menjadikan mental koruptif. Inilah penyakit yang masih ada di negeri ini.
Tidak ada pilihan, jika ingin mengejar Singapura, semua harus bersama-sama mengawal negeri ini dengan mengadopsi tiga kebijakan Mr Lee di atas. (*)












