SIARINDOMEDIA.COM – Sekjen MP3I, Dr. KH. Shofiyullah Muzammil, M. Ag., kembali mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke luar negeri tepatnya ke negeri Sakura, Jepang, selama sepekan, 28 Agustus – 3 September 2024.
Di negeri matahari terbit itu Gus Shofi, sapaan akrabnya, selain menghadiri acara FGD on Developing Halal Eco-System and Fatwa Decision Making at Hiroshima University dan Course of Enhancing Halal Awarness for Moslem Society at Kyusu International University, juga mengunjungi beberapa tempat ikonik bersejarah di Hiroshima, Kyoto, Osaka, Nagoya dan Fukuoka.

Semula di jadwal bertemu dengan beberapa komunitas muslim di Tokyo seperti Tokyo Camii Young Muslim Club (TCYMC) yang berpusat di Masjid Tokyo Camii. Sebuah club yg beranggotakan pemuda muslim Jepang tapi juga menerima anggota yang non muslim untuk saling berinteraksi dan berdiskusi. Club ini sangat kreatif dan inovatif termasuk mendirikan toko dan menyediakan produk halal kebutuhan sehari-hari.
Selain Tokyo Camii ada juga Asagohan Club. Sebuah club yg sengaja didirikan bagi para muslim mualaf. Meski baru berdiri November 2011 tapi club ini juga tidak kalah intensif dalam melakukan kajian dan upaya menyebar nilai-nilai Islam yg rahmatan lil alamin.
Satu lagi, Japan Muslim Dakwa. Sebuah komunitas yg dikomandani oleh Ustad Dzulkarnain dari negeri Jiran, Malaysia.
Namun silaturahim itu sayangnya tidak bisa direalisasikan karena Jepang sedang dalam kondisi tidak bersahabat alamnya. Ada badai, typhoon shanshan, yang melanda beberapa kota di Jepang sehingga jalur transportasi darat dan udara ditiadakan termasuk kereta cepat Shinkansen.
Meski datang ke Jepang tidak diundang dalam kapasitas sebegai Sekjen MP3I tapi Gus Shofi tetap memanfaatkan kesempatan berharga ini untuk memperkenalkan visi dan misi MP3I di berbagai forum dan kesempatan yang ada. Juga membangun jaringan international dengan beberapa peserta yang hadir dari beberapa negara se Asia Timur dan Tenggara itu.

Dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, Gus Shofi menjelaskan terkait prinsip dan kaidah penetapan fatwa yang dipedomani dan dijalankan selama ini di MUI.
Salah satu bahasan yang cukup banyak menarik pertanyaan dari peserta terkait dengan keteguhan sikap Komisi Fatwa memegang prinsip “intifa khinzir haram mutlaq”. Bagi produk makanan dan minuman olahan utamanya, prinsip ini diberlakukan secara ketat tanpa kompromi. Kalau pada bahan ingredien atau pun alat bantu produksinya terdapat unsur babi yang berinteraksi atau bersentuhan langsung dengan makanannya maka langsung dihukumi haram meski hasil akhirnya tidak terlihat lagi unsur babinya setelah melalui proses peleburan (istihalah) dan perusakan (istihlak). Itulah mengapa sertifikat Halal Indonesia bisa diterima di seluruh dunia.
[simpleblogcard url=”https://siarindomedia.com/2024/06/25/sekjen-mp3i-road-show-kenalkan-pesantren-ke-australia/”]
Gus Shofi juga memberikan contoh kasus hukum vaksin astrazeneca yang oleh Komisi Fatwa MUI dihukumi haram dan boleh digunakan. Haram karena terbukti menggunakan alat penyemai vaksin yang terbuat dari babi dalam proses pembuatannya dan boleh karena pada saat itu dianggap dalam kondisi daurat dimana tidak adanya opsi lain yang bisa digunakan sementara semakin banyak masyarakat yang meninggal kalau tidak segera divaksin.
Itulah gambaran bagaimana independennya anggota Komisi Fatwa dalam melakukan proses penetapan hukum. Anggota Komisi Fatwa tidak mau diintervensi siapapun termasuk oleh negara. Anggota komisi fatwa hanya bertanggungjawab pada ummat dan Allah soal pilihan hukum yang ditetapkan.

Selama sepekan berkunjung di negeri Doraemon ini, Gus Shofi banyak mendapatkan pengalaman dan inspirasi terutama terkait kemajuan teknologi dan kekuatan serta keteguhan menjaga adat tradisi dan kebudayaan yang keduanya bisa dijaga dan dijalankan secara berimbang dalam kehidupan masyarakat Jepang.
Kecanggihan teknologi sdh menyatu dalam kehidupan keseharian masyarakat Jepang. Mulai dari toilet yang ramah lingkungan, mode transportasi, robot pelayan restoran hingga kereta cepat shinkansen yang melaju lebih dari 300 km/jam dalam senyap dan nyaman.
Jepang adalah kota yang sangat terjaga kebersihannya meski sulit menemukan keranjang sampah. Resikonya setiap kita makan atau minum ada sisa sampah wadah dari makan dan minum harus kita kantongi sampai menemukan tempat sampah. Tempat sampahnya juga sudah terpilah untuk kertas, plastik dan lainnya.
Selain budaya sampah yang sangat terjaga juga budaya antri dimanapun tempat dan keadaan. Semua tertib dan rapi berbaris tanpa diklomando. Kemandirian penduduk Jepang terlihat dari semua usia mulai dari anak TK hingga lanjut usia. Setiap memulai aktivitas pagi hari terlihat anak-anak hingga usia lanjut bahkan, maaf, berjalan sudah dalam posisi seperti rukuk aktif melakukan rutinitas harian. (*)














