SIARINDOMEDIA.COM – Banyak pertanyaan dalam sejarah siapa saja sebenarnya pahlawan yang berani merobek bendera Belanda saat perang melawan Belanda di Surabaya, September 1945 silam. Karena saat proklamasi sudah dikumandangkan, ternyata Belanda masih merasa menjadi penguasa Indonesia. Buktinya, mereka memasang bendera Belanda tinggi-tinggi di atas Hotel Yamato Surabaya. Tentu saja ini mengundang reaksi pejuang tanah air. Mereka mempertaruhkan nyawa demi merobek bendera Belanda.
Banyak versi yang menyebut nama-nama perobek itu. Namun satu di antara pahlawan itu ada nama Cholil Baureno. Pemuda asal Pasinan, Kecamatan Baureno, Bojonegoro itu menjadi satu di antara puluhan yang nekat naik ke atas hotel dan merobek bendera tiga warna tersebut. Dia tidak pedulikan tentara Belanda sudah siap dengan kokang senjata dari bawah. Dan Cholil bersama pejuang yang lain akhirnya berhasil dan selamat dari sasaran tembak Belanda.
Kisah heroik ini telah terdokumentasikan dalam buku berjudul ‘Mbah Cholil Baureno, Kepahlawanan, Khidmah dan Keteladanan’. Dan untuk mengupas detailnya, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Malang menginisiasi membedah buku yang ditulis Alfi Saifullah tersebut di Pendopo Agung, Jalan KH Agus Salim Kota Malang, Jumat (23/8/2024).
Dalam catatan sejarah yang banyak diajarkan di sekolah, nama Cholil tidak pernah terdengar. Tetapi berdasarkan data-data yang digali penulis dan sumber-sumber yang terpercaya, orang yang merobek bendera Belanda tersebut adalah Mbah Cholil tersebut.
Dalam bedah buku tersebut, hadir sebagai pemateri antara lain Alfi Saifullah (penulis), Prof. Dr. KH. Kasuwi Saiban, M.Ag. (Guru Besar Unmer Malang), Ki Ardhi Poerboantono (Pengurus Lesbumi PBNU), Abdul Muntholib, M.E. (CEO Siarindo Media) dan Prof. Dr. Hj. Mufidah Cholil, M.Ag. (putri Mbah Cholil).
Alfi Saifullah menyampaikan buku setebal 374 halaman ini dia tulis dalam waktu tiga bulan. Yaitu mulai 16 Desember 2023 hingga Maret 2024.
Menurutnya, Mbah Cholil ibarat mutiara terpendam. Namanya jarang terdengar. Ternyata dia tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga penggerak rakyat Bojonegoro dalam melawan Belanda saat revolusi fisik.
[simpleblogcard url=”https://siarindomedia.com/2023/11/21/bahasa-indonesia-jadi-salah-satu-bahasa-resmi-unesco/”]
Salah satu pembedah buku Abdul Muntholib menyampaikan buku tersebut terbit pada momen yang tepat. Yang mana tahun ini di Indonesia sedang terjadi banyak klaim dari pendatang Yaman tentang perjuangan Kemerdekaan RI. Padahal kemerdekaan hasil perjuangan para ulama asli Nusantara.
“Dengan terbitnya buku ini menguatkan bahwa jasa para kiai Nusantara dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan sangat besar,” katanya.

Di sisi lain, Tholib menyebut, pemilihan judul buku tersebut ada kelemahan. Terlalu datar. Sehingga kurang menarik pembaca. Dia mengusulkan judul utama yang diangkat harusnya Perobek Bendera Belanda.
”Itu akan lebih menarik,” saran dia di hadapan sekitar 100 audiens tersebut.
Sementara itu Ketua ISNU Kabupaten Malang KH Abdullah Sam menyampaikan, meski Mbah Cholil asal Bojonegoro tetapi memiliki kaitan dengan Malang. Karena keturunannya ada yang menetap di Malang dan menjadi tokoh. (ABM)













