HIDUPKAN KEMBALI SEMANGAT KESUSASTRAAN, PEGIAT SASTRA PUISI DI KOTA MALANG MEMBACAKAN AYAT-AYAT CHAIRIL ANWAR.

SIARINDOMEDIA.COM – Merayakan Hari Puisi Nasional sekaligus kelahiran seorang maestro puisi Indonesia, Chairil Anwar, para komunitas pegiat sastra puisi di kota Malang mengadakan Mimbar Puisi: Ayat-Ayat Cahiril Anwar dan diskusi tentang perjalanan kepenyairan seorang Chairil, Sabtu (28/7/2024) malam.

Kalau kita menelusuri sejarah panjang kesusastraan Indonesia, khususnya puisi, maka kita tidak akan lepas dari seorang tokoh bernama Chairil Anwar. Berbagai komunitas bersinergi dalam membakar semangat kepenyairan di acara tersebut seperti komunitas Halaman Delapan, Sangkar Malang, Puisi Malam Sabat, Gelap Terang Pustaka Jalanan dan KpKp, acaranya sendiri diadakan di kafe Rendezvous Kalimetro, Kota Malang.

Acara dibuka dengan penampilan live musik dari Fey. Dia menyanyikan lagu yang diadaptasinya sendiri dari salah satu puisi Chairil Anwar.

“Lagu ini lahir dari hasil merenungi salah satu puisi Chairil yang berjudul ‘Aku’, lalu saya mencoba menulisnya kembali,” ujarnya.

[simpleblogcard url=”https://siarindomedia.com/2023/10/22/apresiasi-pegiat-sastra-komunitas-pelangi-sastra-malang-gelar-festival-sastra-kota-malang/”]

Tidak hanya live musik, ada juga pembacaan ayat-ayat (puisi) Chairil oleh beberapa orang. Salah satu puisi yang dibacakan Wari dengan suara yang lantang yang berjudul ‘Diponegoro’.

“Puisi ini dulu sering muncul di buku pelajaran dan soal-soal ujian waktu di sekolah, gara-gara itu saya akhirnya menyukai puisi ini,” ujarnya.

“Dulu saya juga pernah berjualan makanan ringan (kaki lima), kemudian setiap menunya saya namai dengan puisi Chairil,” tambahnya.

Selain ayat-ayat Chairil yang dibacakan, ada juga yang membacakan puisi yang dibuatnya sendiri. Salah satunya yang dibacakan oleh Tamimi. Dia membacakan puisi yang berjudul ‘Calon Presiden yang Baik’. Di mana puisi ini ditulisnya ketika menjelang pemilu lalu.

Kemudian acara dilanjutkan dengan diskusi perjalanan kepenyairan Chairil Anwar.

NAPAK TILAS. Diskusi perjalanan kepenyairan Chairil Anwar. Foto: Kristian Ndori

Menurut Agyl, kenapa patung Chairil ada di kota Malang, tepatnya di kayutangan, padahal Chairil sendiri bukan orang Malang.

“Waktu itu Chairil pernah ke Malang dalam rangka menghadiri sidang pleno KNIP yang di berlokasi di Sarinah (sekarang menjadi Sarinah Mall Malang) 1947. Saat di Malang itulah dia menggerakkan semangat kebudayaan sekaligus kesenian di Malang, ” imbuhnya.

Ditambah lagi pada saat itu Indonesia sedang berada di masa awal kemerdekaan. Puisi-puisi Chairil juga banyak yang konsern di isu-isu sosial. Maka salah satu alasan juga kenapa patung Chairil ada di Malang, dulunya itu tempat patung Ratu Belanda Wilhelmina. Patung itu kemudian dihancurkan dan digantikan dengan patung Chairil sebagai bentuk perlawanan atas kolonialisme.

Itulah kenapa hingga saat ini puisi-puisi Chairil akan selalu relevan. Karena puisi sendiri merupakan anak kandung kebudayaan.

“Puisi itu akan selalu menjadi bagian dari kita. Bagaimana puisi itu berbicara tentang kebangsaan dan kebudayaan,” ujar Tamimi.

PEGIAT SASTRA PUISI. Foto bersama dengan perwakilan dari berbagai komunitas sastra yang hadir. Foto: Kristian Ndori

Pewarta:

Lalu Ahmad Albani Atsauri

Follow Berita & Artikel Siarindo Media di Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *