TC DI KAZAKHSTAN
Dia mencontohkan skuad di luar negeri bisa mencapai top level. Karena setiap pekan, tiap bulan ada turnamen. Kalau di Indonesia, anggaran untuk latihan, dan hampir sedikit turnamen.
“Orang yunior ke senior dalam setahun dia butuh 12 turnamen. Kita nggak punya turnamen, latihan terus. Bedanya mereka bikin program untuk kompetisi. Kalau kita untuk latihan, setahun hanya sekali saja turnamen. Bahkan, mungkin nggak ada.
“Makanya kita susah bersaing di tingkat Asia, karena Asia punya liga karate. Jadi nanti setelah TC di Kazakhstan itu kita cari turnamen di sekitar situ, kalau bisa ditambahkan waktunya. Supaya sepulang ke tanah air, masih fresh menghadapi PON,” jabarnya.
Sebab, dia khawatir kalau pulang awal kemampuan nanti turun lagi. Karena mindset di Indonesia berbeda dengan atlet luar negeri, yang tidak perlu disuruh latihan, dia latihan.
“Main di PON tanggal 16-19, kalau pulang cepat bisa balik habitat, karena masalah komitmen latihan. Lihat temannya, nongkrong sana-sini, bisa turun. Jadi nanti pulang masih kondisi panas-panasnya,” tukasnya.
Terkait target KONI Jatim tiga emas, dia menegaskan, kenapa tidak.
“Kita repot-repot latihan, ya masak nggak ada target. Harus ada kemauan dari atlet untuk mencintai dan mencapai itu. Seperti orang luar negeri, nggak ada uang, ya latihan karena cinta berbuat untuk kebanggaan diri sendiri,” ujarnya.
“Mudah-mudahan tim karate Jatim bisa memberikan all out yang terbaik. Dengan latihan di luar negeri bisa memberikan spirit, menambah performa, dan kepercayaan diri,” tandasnya.
Diketahui, Korea Selatan tandang ke Indonesia ini dalam rangka road show, nantinya akan ke Hongkong, ada training camp. Nah, Indonesia juga akan ke sana, karena jago-jago karate dari seluruh dunia berkumpul di Hongkong.
“Manfaat Sparing ini untuk meningkatkan kepercayaan diri atlet, mental dan spirit. Kalau teknik hampir sama, tinggal cari momen kapan menyerang dan bertahan. Ini lewat banyak sparing dan turnamen,” pungkas Sensei Umar Syarif. (*)












