SIARINDOMEDIA.COM – Serangan kembali diluncurkan Israel di Rafah pada Selasa, (19/6/2024). Setidaknya ada 17 warga Palestina di jalur Gaza meninggal dunia akibat serangan tersebut.
Reuters melaporkan, beberapa wilayah di Rafah kembali dibom dan mengakibatkan sebagian besar penduduk harus melarikan diri ke utara sejak pasukan Israel menyerbu kota tersebut.
“Rafah dibom tanpa intervensi apa pun dari dunia, pendudukan (Israel) bertindak bebas di sini,” kata seorang warga Rafah.
Tank-tank Israel disebut beroperasi di wilayah Tel Al-Sultan, Al-Izba, Zurub di barat Rafah, dan Shaboura di jantung kota. Mereka terus menduduki wilayah timur, pinggiran, serta perbatasan dengan Mesir dan perbatasan penting Rafah.
Satu orang kembali tewas di pagi hari akibat tembakan Israel di sisi timur Rafah. Para petugas medis meyakini banyak orang yang terbunuh dalam beberapa hari dan minggu terakhir, tetapi sayangnya tim penyelamat tidak bisa menghubungi mereka.
Di jalur Gaza tengah, serangan udara Israel menewaskan 17 warga Palestina di dua kamp pengungsi. Seorang guru dari Gaza mengungkap keinginannya untuk melakukan gencatan senjata. Lantaran setiap jam penundaan, Israel akan membunuh lebih banyak orang.
“Cukup atas darah kita, saya katakan kepada Israel, Amerika, dan para pemimpin kita juga. Perang harus dihentikan,” ujarnya.
Menyikapi situasi kacau di Jalur Gaza, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan aksi internasional untuk menyudahi kekejaman Israel terhadap para warga Palestina.
Erdogan mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi video Hari Raya Idul Adha bersama anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).
Dia mengatakan, rakyat Palestina yang menjadi sasaran pembantaian sistematis selama 76 tahun lagi-lagi harus merayakan Idul Adha dalam situasi kesedihan.
“Kepedihan 38 ribu saudara kita yang menjadi martir akibat genosida yang dilakukan pemerintahan Israel menyayat hati kita sebagai sebuah bangsa dan sebagai sebuah umat. Kita sedang menjalani hari-hari yang menguji, tidak hanya identitas muslim kita, tetapi juga kemanusiaan kita. Menunjukkan reaksi terhadap pembantaian di Gaza bukan hanya tugas persaudaraan kita, tetapi juga tugas kemanusiaan kita,” kata Erdogan.

Menurutnya, dunia harus segera mengambil langkah untuk melawan kekejaman Israel dan segera mencegah pembantaian yang terus terjadi setiap hari.
Erdogan juga mengecam pemerintahan Netanyahu karena menjadi penyebab kehancuran di wilayah Palestina, termasuk warganya sendiri hanya demi memperpanjang kehidupan politiknya.
“Kami tidak tinggal diam atas tragedi yang terjadi di belahan dunia Islam lainnya, termasuk Gaza. Upaya kami terus berlanjut untuk mengakhiri konflik persaudaraan di Sudan yang telah berlangsung selama lebih dari setahun,” sambungnya menegaskan upaya Turki dalam menyatukan dunia Islam dan meningkatkan jumlah negara-negara yang mengakui negara Palestina.














