SALING MELENGKAPI DENGAN BERAS
Kacang hijau semakin menjadi pilihan petani, karena budidayanya cukup mudah, umur relatif genjah dengan hasil yang menguntungkan. Tanaman ini memiliki kandungan karbohidrat dan protein tinggi masing-masing sebesar 61,0% dan 23%. Karakteristik umur genjah (55-65 hari) dan toleran terhadap kekeringan, maka prospektif untuk dikembangkan di lahan sub optimal.
Peran strategis lainnya adalah komplementer dengan beras, sebab protein beras yang miskin lisin dapat diperkaya kacang hijau yang kaya lisin.
Produk terbesar hasil olahan kacang hijau di pasar berupa taoge (kecambah), bubur, makanan bayi, industri minuman, kue, bahan campuran soun dan tepung hunkue. Dengan potensinya ini kacang hijau dapat mengisi kekurangan protein pada umumnya, perbaikan gizi sekaligus mendukung program nasional menaikkan pendapatan petani. Disamping kebutuhan di dalam negeri, permintaan eksport juga semakin meningkat.
Penanaman kacang hijau dilakukan di sawah maupun tegal dengan luas panen nasional 206.525 ha (BPS 2018). Daerah sentra produksi kacang hijau tersebar di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan total produksi mencapai 91,7 persen dari produksi nasional.
Hasil biji rata-rata 1.149 t/ha, dengan kisaran 0.774-1.858 t/ha tergantung varietas, lokasi, dan budi daya.
Karakteristik varietas kacang hijau yang digunakan beragam tergantung pemanfaatannya. Untuk pasar lokal pada industri kecambah biasanya digunakan kacang hijau yang memiliki ukuran biji kecil. Sedangkan untuk industri makanan atau minuman biasanya digunakan kacang hijau yang memiliki ukuran biji besar karena berhubungan dengan kemudahan pengupasan.
Untuk ekspor, selain memiliki ukuran biji besar juga memiliki warna kulit biji hijau kusam. (*)













