SIARINDOMEDIA.COM – Pemerintah Papua Nugini menyatakan lebih dari 2.000 warganya tertimbun longsor yang terjadi akhir pekan lalu. Angka ini naik tiga kali lipat dari yang dilaporkan PBB sebelumnya.
Dalam suratnya kepada PBB hari Senin, penjabat direktur Pusat Bencana Nasional, Lusete Laso Mana, mengungkapkan bencana tanah longsor itu telah merenggut banyak jiwa. Dia juga menyatakan pemerintahnya secara resmi meminta bantuan internasional.
“Longsor mengubur hidup-hidup lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan kerusakan parah pada bangunan, kebun pertanian serta menimbulkan dampak besar pada perekonomian negara,” terang Mana, dikutip dari Associated Press.
“Situasi sampai hari ini belum stabil karena tanah terus bergeser secara perlahan. Sehingga bisa berbahaya bagi tim penyelamat dan para penyintas,” lanjutnya.
The search for survivors continues after a remote hillside village in Papua New Guinea was hit by a massive landslide, burying more than 2,000 people. pic.twitter.com/stFWJy2wkM
— DW News (@dwnews) May 27, 2024
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, gempa bumi menimbulkan tanah longsor di Kaokalam, Provinsi Enga, Jumat pekan lalu. Wilayah pegunungan Yambali ini berada sekitar 600 kilometer dari Port Moresby, ibukota Papua Nugini.
Ada perbedaan cukup signifikan terkait jumlah korban. Sehari setelah kejadian, Serhan Aktoprak, kepala migrasi PBB untuk Papua Nugini mengatakan longsor merenggut 670 korban jiwa. Sedangkan bangunan tempat tinggal yang terkubur mencapai 90 rumah.
Namun dalam laporan terbaru yang dikeluarkan Pemerintah Papua Nugini, jumlah korban jiwa maupun rumah yang tertimbun longsor, melonjak pesat.
Kantor Perdana Menteri Papua Nugini James Marape pada hari Senin tidak menanggapi permintaan untuk penjelasan tentang dasar perkiraan pemerintah mengenai jumlah 2.000 korban, meningkat tiga kali lipat dari kalkulasi sebelumnya.
Marape hanya berjanji akan merilis informasi mengenai skala kehancuran dan korban jiwa jika datanya sudah tersedia.

Sementara itu, PBB menyatakan saat ini telah turun tangan membantu Pemerintah Papua Nugini dengan mengordinasikan upaya tanggap darurat.
Upaya tanggap darurat tersebut di antaranya dengan menyiapkan tempat penampungan sementara, makanan, air dan pasokan lain yang diperlukan untuk kemudahan transportasi bantuan dan distribusinya.

Meski demikian, penyaluran bantuan tetap tidak akan mudah. Selain lokasi bencana berada di daerah terpencil dan sulitnya akses komunikasi, perang suku yang kerap terjadi di provinsi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, keterlibatan militer sangat mungkin diperlukan untuk mengawal sukarelawan internasional dan konvoi bantuan hingga mencapai ke lokasi bencana. (TON)













