Nasionalisme dan Sportainment
Televisi telah meramu beragam unsur dalam sepak bola menjadi perpaduan (bauran) antara permainan si kulit bundar di lapangan hijau dengan segala pernik-pernik yang terkait secara menghibur dan memikat.
Alhasil, melalui siaran televisi penonton tidak saja menyaksikan sebuah kompetisi pertandingan sport belaka, tetapi juga menikmati suguhan dari olahan para “chef”, peramu program acara sepak bola di televisi.
Penonton nobar sepak bola di banyak tempat juga dapat merasakan emosi, ketegangan, kekecewaan, hingga menangkap atmosfir yang ada di stadion. Sensasi nonton bola bisa dihadirkan televisi serupa dengan situasi aslinya di lapangan.
Puluhan kamera televisi diletakkan di berbagai sudut untuk menangkap beragam momen yang terjadi. Perayaan gol pemain, ketegangan saat adu pinalti, ekspresi penonton, gestur instruksi khas pelatih, dapat disaksikan para penonton televisi.
Beberapa kamera televisi bahkan mampu menangkap gambar dengan kecepatan tinggi. Kamera tersebut untuk menyorot gambar detail seperti ekspresi wajah pemain saat menyundul bola, menjegal kaki lawan, menarik kaos, atau gambar rumput stadion yang ikut terbang karena sapuan tendangan. Penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) juga sangat membantu wasit dalam mengambil keputusan.
Melalui kuasa televisi telah menjadikan sepak bola tak hanya jadi pertandingan olah raga, namun telah menjadi tontonan yang menghibur dan menyenangkan walau kadang tanpa sadar para penonton televisi telah menjadi sasaran empuk dari beragam iklan produk yang tayang menyertai siaran sepak bola yang sedang ditayangkan.
Selamat menikmati euforia sepak bola di televisi dan di beragam tempat nobar sambil ditemani aneka camilan, kacang, rokok, dan kopi. (*)
Artikel ‘Nobar, Nasionalisme, dan Sportainment’ ini merupakan sumbangan tulisan Sugeng Winarno, S.Sos, . M.A.
* Penulis merupakan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang












