HARI RAYA PERANG
Kerinduan yang sama juga dituturkan Sarah Amer kepada BBC Gaza Lifeline. Gadis berusia 11 tahun itu mengingat betul ketika dia bermain-main di taman dan menaiki ayunan tepat di Hari Raya Idul Fitri tahun lalu.
“(Tapi) sekarang semuanya sudah berubah dan kami tak lagi merasakan nikmatnya suasana hari raya, ucapnya.
“Tidak ada Idul Fitri. Yang ada malah orang mati, terluka, cacat. Ini hari raya perang. Jadi bagaimana kami bisa bersuka cita dan merayakan kalau banyak orang terbunuh, ditahan dan terluka?” tanyanya getir.

Kendati demikian, ada juga yang mencoba bersikap sedikit menghibur diri, seperti Moaz Abu Moussa, warga Rafah. Menurutnya, apapun yang terjadi, suasana kebahagiaan Idul Fitri harus tetap bisa dirasakan semua orang.
“Kami tidak peduli dengan perang. Kami akan merayakan Idul Fitri selayaknya umat Muslim lainnya dan berbagi kebahagiaan kami kepada para pengungsi dan orang-orang yang sanak saudaranya ditahan atau pun menjadi syuhada,” kata Abu Moussa. (TON)













